#KibulanSusu dalam Al Quran

Http://t.co/SX9BZfBs   Susu Yang Selalu Dianggap Wajib Minum #KibulanSusu

Yang suka ngutip Qur’an An Nahl ; 66, dan menganggap itu legitimasi susu hewan wajib minum, mungkin belajar ngaji gak biasa pake tafsir ;)

Okay, saya bukan ahli agama, tapi Al Quran turunkan “Iqra” sebagai kata pembuka. Baca->membaca, belajar alam, ilmu dan lainnya #KibulanSusu

Belajar pada alam, adalah sesuatu yang diperintahkan Tuhan ke manusia. Orang biasa, melewatkan. Orang yang berpikir, mensyukuri #KibulanSusu

Dalam kesederhanaan pergantian malam dan siang, orang biasa melewatkan begitu saja. Orang berpikir? Dia kagumi kehebatan Tuhan #KibulanSusu

Kalimat itu pernah saya baca di surah An Nur (24:44). “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” Hal sama berlaku disini. Mari kita bahas #KibulanSusu

Kembali ke surah An Nahl ayat 66, yang sering dianggap ‘cap stempel’ bahwa Islam ‘mewajibkan’ susu diminum bagi kesehatan #KibulanSusu

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari.. #KibulanSusu

..apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi yang meminumnya #KibulanSusu

Karena ada kata ‘susu’, banyak yang mengira fakta susu hewan -utama sapi- tidak baik untuk kesehatan, bertentangan dengan agama #KibulanSusu

Padahal dibaca ulang lengkap, kalimat ayat tersebut sama sekali tidak menyebutkan manfaat kesehatan dari susu hewan ke manusia #KibulanSusu

Tapi lebih diarahkan untuk kita mengagumi Tuhan yang sanggup mencipta ‘minuman’ bersih walau berada di tempat yang kotor #KibulanSusu

Antara areal penuh darah-kotoran binatang keluar. Tuhan mampu ciptakan ‘minuman bersih’ yang ‘mudah ditelan’. Hebatnya Tuhan! #KibulanSusu

Jadi bila kita perhatikan sapi, Tuhan bisa beri kita minum, walau tempat keluarnya bukan lokasi ideal, yang bersih mudah telan #KibulanSusu

Sekali lagi kita diarahkan untuk pahami betapa hebatnya Tuhan, mencipta sesuatu amat rumit sedemikian. Gak akan ada yang mampu #KibulanSusu

Tapi yang dipergunakan adalah kata ‘bersih’ & ‘mudah telan’. Kalau memang dilegitimasi, kata yang dipakai adalah ‘sehat’ bukan? #KibulanSusu

Uniknya lagi, salah satu karakter Al Qur’an adalah sering mengelompokkan beberapa ayat dalam satu surah dengan tujuan tertentu #KibulanSusu

Hal sama berlaku di An Nahl ini, ayat 65-72, beruntun-runtun menyampaikan konsep serupa. Kehebatan Tuhan dalam ‘menciptakan’ #KibulanSusu

Penutup di ayat 72, menegaskan sekali lagi “..maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” #KibulanSusu

Seakan Tuhan berkata, “..dari sekian banyak kehebatan dan nikmat yang diberikan, masih ada yang mencoba untuk ingkar?” #KibulanSusu

Kembali lagi, bisa dilihat bahwa pembahasan yang membawa Qur’an 16;66 seakan mewajibkan susu, adalah ‘jauh panggang dari api’ #KibulanSusu

Disana sama sekali tidak dibicarakan susu sebagai komoditas kesehatan. Yang dibicarakan adalah hal lain dan tujuan lain #KibulanSusu

Secara faktual susu sapi memang bermanfaat, untuk bayi sapi. Pun didisain Tuhan untuk keperluan bayi sapi sesuai porsi & waktu #KibulanSusu

Manusia bisa ‘meminum’ susu sapi, dalam takaran, sekedar bisa. Bukan sebagai komoditas kesehatan apalagi terkira diwajibkan #KibulanSusu

Bila dipaksakan, timbul masalah. Tidak heran, karena takarannya tidak sesuai peruntukan manusia. Ini hukum alam, jangan dilawan #KibulanSusu

Al Qur’an tidak berlawanan dengan hukum alam. Bila disikapi dan ditafsirkan secara proporsional. Tidak dipaksakan sekehendaknya #KibulanSusu

Demikian kibulan ini. Suka sukur gak suka unfollow. Gak follow ribut? Coba tidur dalam bedug mesjid yang sedang dipukuli, sukur-sukur sadar

Yoga Mengatasi Masalah Darah Rendah

Bagaimana cara menangani serangan tekanan darah rendah saat berada di rumah? Saat kita jauh dari obat-obatan atau saat kita merasa bahwa terlalu banyak unsur kimiawi dari bahan obat farmasi bisa mengganggu fungsi organ tubuh kita?

 

TEKANAN DARAH RENDAH

Biasa disebut sebagai hypotension, adalah saat tekanan darah berada di bawah level rata-rata untuk bisa mentransfer kebutuhan darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tubuh kekurangan sumber utama pemasok substansi-substansi penting untuk menjalankan fungsinya.

Secara normal penderita darah rendah masih memiliki keuntungan fisik ketimbang penderita darah tinggi, di mana keleluasaan hidup mereka masih lebih longgar serta acap mereka tidak merasakan apapun walau tekanan darahnya berada di bawah level normal.

Namun adakalanya kondisi tekanan darah rendah yang berhubungan langsung dengan jaringan sistem saraf, hormon mengalami gangguan akibat satu kondisi ekstra, stres dan serangan virus atau bakteri semisal, yang menduplikasi kondisi itu lebih parah dari biasanya. Di saat inilah pasokan darah yang kurang maksimal akan terasa lebih merugikan.

Yang paling fatal saat pasokan darah menuju ke otak berkurang mengakibatkan tubuh secara langsung mengalami beragam gangguan. Cepat lelah, rasa lemas, tubuh terasa dingin, rasa mual adalah salah satu contoh gangguan signifikan dari kondisi darah rendah. Yang palng parah biasanya kadang mengalami keadaan ‘black out’ sesaat atau malah jatuh pingsan.

 

YOGA

Apa yang bisa dilakukan yoga untuk membantu penderita tekanan darah rendah? Latihan postur dalam yoga, biasa disebut asana, mengaktifkan tubuh dalam sedemikian rupa yang mampu menstimulasi kerja organ sehingga selalu terjaga kondisi optimalnya.

Kerja jantung –yang menjadi masalah utama para penderita tekanan darah rendah- adalah salah satu organ yang juga turut aktif terakselerasi kerjanya apabila kita secara rutin berlatih yoga. Salah satu pose yoga dalam bentuk back bending (pelengkungan punggung kearah belakang) memberikan pijatan dalam bentuk longitudinal yang sangat baik untuk merangsang kerja jantung.

Menguatkan ototnya sekaligus melepaskan berbagai macam sumbatan yang membuat jantung sulit menerima pasokan ataupun memompa darah. Bagi penderita darah rendah, kinerja jantung mereka acap meningkat saat rutin melakukan pose ini dengan benar.

Sebagai tambahan, lewat upaya sama kinerja paru-paru –yang memberikan oksigen kepada sel darah merah— menjadi meningkat berkali-kali lipat. Limpahan oksigen ini memberikan tambahan nutrisi bagi darah yang sangat menguntungkan tubuh manusia. Itulah sebabnya banyak pelaku yoga yang merasa sangat segar setelah selesai berlatih dan menjadi ketagihan untuk melakukannya secara rutin.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana saat serangan darah rendah tersebut muncul dan membuat tubuh menjadi lemah yang menyulitkan untuk berlatih yoga secara normal. BKS Iyengar, salah satu tokoh perintis yoga terapitikal terbaik di dunia, memperkenalkan serangkaian asana yang telah dimodifikasi dengan berbagai alat bantu menjadi asana restoratif yang mampu membantu pemulihan kondisi fisik. Dan sangat mudah untuk dilakukan oleh siapapun.

..Bahkan tanpa harus keluar dari kamar tidur!

 

1. SUPTHA BADDHA KONASANA

Salah satu bentuk modifikasi back bending yang mampu merangsang tubuh untuk lebih aktif namun pada saat bersamaan juga merupakan fase relaksasi karena pemakaian alat bantu yang dapat memberikan kemudahan serta rasa nyaman.

Persiapkan guling atau bantal (di beberapa daerah di luar Indonesia, sulit menemukan guling) pilih yang tebal dan cukup kuat untuk menopang beban tubuh. Apabila tidak ada tumpuklah beberapa bagian sehingga mendapatkan ketebalan yang cukup.

Duduklah di depan guling atau bantal yang terletak tegak lurus kebelakang. Beri jarak sekepal dengan punggung bawah. Lalu tekuk lutut dan tempelkan kedua telapak kaki. Tegakkan tubuh atas.

Rebahkan tubuh ke belakang di atas guling atau bantal tersebut. Rasakan perut dan dada mengembang karena support dari alat bantu yang memudahkan pernafasan serta melonggarkan tekanan pada bagian perut. Bernafaslah dengan leluasa, aktifkan otot diafragma sehingga perut lebih aktif dalam membantu paru-paru bekerja. Bertahan selama 5 menit.

 

2. VIPARITA DANDASANA

Inilah pose back bending yang dapat memberikan hasil signifikan bagi penderita darah rendah karena stimulasi yang diberikan pada jantung. Menstimulasi jantung sekaligus mengirimkan darah segar penuh oksigen ke otak serta beragam kelenjar endokrin penting.

Siapkan tumpukan bantal atau guling di bawah tempat tidur. Duduklah di bagian tepi tempat tidur, panjangkan kaki lurus ke depan. Tegakkan tubuh sambil memanjangkan ruas-ruas tulang punggung.

Perlahan-lahan jatuhkan tubuh ke belakang arahkan puncak kepala ke bantal atau guling sebagai support. Pastikan bahwa bagian dasar dari tulang belikat (scapula) di punggung atas tubuh kita tepat menyentuh tepian tempat tidur agar dada kita bisa membuka secara maksimal. Panjangkan dagu menjauh dari dada agar peregangan back bending dari tulang punggung kita bisa berlansung secara penuh. Bertahanlah selama 15-30 detik.

CATATAN

Setelah selesai jangan mengambil resiko dengan mengangkat punggung untuk kembali ke posisi semula. Gulingkan tubuh ke samping lalu dorong tubuh ke posisi duduk atau jatuhkan tubuh perlahan-lahan kearah guling atau bantal setelah sebelumnya mengembalikan posisi dagu kearah dada.

 

3. ADHO MUKHA VIRASANA

Salah satu pose relaksasi terbaik yang dapat memberikan rasa tenang dan nyaman bagi tubuh. Menempatkan jantung parallel dengan gravitasi bumi yang dapat menstabilkan kerjanya.

Tempatkan guling atau tumpukan bantal di depan selangkangan sambil membuka paha cukup lebar. Gulung selimut atau handuk di depan bantal. Tegakkan tubuh.

Perlahan-lahan jatuhkan tubuh atas kearah bantal. Tempatkan dahi di atas gulungan selimut. Panjangkan kedua tangan di sisi tubuh sehingga bahu berada dalam keadaan nyaman. Buka tulang belikat lebar-lebar. Bertahanlah selama 5 menit.

 

4. PASCHIMOTANASANA

Berguna untuk menetramkan sistem metabolisme tubuh memindahkan kerja saraf sympathetic yang identik dengan kondisi fluktuatif ke parasympathetic yang bersifat stabil dan relaks.

Duduk tegak di depan kursi, letakkan bantal atau lipatan selimut di depan dudukan kursi. Angkat dan tegakkan tulang punggung lurus ke atas.

Letakkan dahi perlahan-lahan di atas kursi. Panjangkan tangan atau lipat di depan kepala sambil mengendurkan ketegangan di bagian leher serta bahu. Bernafas dengan leluasa selama 5 menit.

 

5. VIPARITA KARANI

Mengakselerasi pergerakan pembuluh darah balik (vena) kearah jantung, dengan membalikkan tubuh melawan gravitasi bumi. Meringankan kerja jantung serta menstabilkan tekanan darah.

Tempelkan guling atau bantal di depan dinding. Duduk di atas dan tempelkan sisi tubuh kearah dinding. Ratakan sisi tubuh dengan sisi luar dinding tersebut.

Angkat kaki ke atas dan perlahan jatuhkan tubuh ke lantai. Dorong agar pantat bisa menempel pada tembok dan punggung bagian bawah tersangga oleh bantal. Dorong kaki ke atas sejauh mungkin, aktifkan tumit dan ratakan telapak kaki. Bernafaslah dengan relaks, bertahan selama 3-4 menit.

 

6. SALAMBA SARVANGASANA

Melepaskan sumbatan di saluran koroner yang dapat melemahkan kerja jantung. Menjaga fleksibilitas otot jantung sekaligus menstabilkan tekanan darah. Melepaskan tekanan di bagian rongga perut serta menetramkan kerja kelenjar adrenalin.

Pergunakan guling dan bantal. Letakkan tumit di atas guling melintang di bawah tubuh kita, duduk di tengah guling tegak lurus. Satukan kedua kaki dengan belt yoga (atau ikat pinggang kain) di bagian tengah paha untuk melindungi tulang punggung. Tegakkan tubuh dengan menekan kedua tangan ke lantai.

Perlahan-lahan turunkan tubuh ke belakang, letakkan bagian dasar tulang belikat di ujung bantal sehingga tulang dada melebar ke samping dan paru-paru mengembang maksimal. Bertahanlah selama 5- 8 menit.

 

7. SAVASANA

Setelah melakukan serangkaian asana yoga, savasana adalah langkah perangkum semua manfaat dari beragam asana yang telah dilakukan.

Duduk tegak dengan kaki terdorong lurus ke depan, angkat tulang punggung agar terentang secara lurus dari puncak kepala hingga ke bagian bawah (sacrum), letakkan guling tegak lurus di belakang tulang punggung.

Pemakaian alat bantu guling akan memberikan support bagi dada dan perut yang membantu kerja seluruh organ di dalamnya agar fase relaksasi dapat berlangsung dengan maksimal. Pergunakan penutup mata untuk fokus pada relaksasi. Bernafaslah dengan leluasa dan bertahan selama 10-15 menit

#Yoga Mengatasi Lower Back Pain (Piriformis Syndrome)

Kronologi

Awalnya gara-gara komitmen untuk maen basket kompetitif lagi, dalam rangka Turnamen Sekolah Menengah Atas era 90-95! Badan yang sudah bertahun-tahun gak pernah bermain di level permainan keras, harus dipaksa berada pada kondisi ‘siap hajar’ seperti dulu. Walhasil, badan merana, haha! Problem itu ditambah, saat dalam satu pertandingan uji coba, saya sukses ‘dihajar’ oleh lawan yang terpaksa melakukan pelanggaran untuk menghemat waktu pertandingan, karena mereka tertinggal. Sepertinya pelanggaran itu memberi ‘hantaman’ cukup kuat di bagian punggung bawah saya. Namun karena seluruh fungsi fisiologis tubuh juga sedang ‘menderita’, rasa sakit itu tidak terlalu mengganggu. Soalnya semua badan rasanya gak enak pasca berolahraga ‘stop and go’ model basket seperti ini.

Rasa sakit baru terasa saat malam tiba. Mendadak punggung bawah dan tengah menjadi kaku dan seluruh kaki menjadi terbatas pergerakannya. Terutama bagian belakangnya! Buset, ini yang namanya ‘Back Pain’ rupanya!

Karena lumayan terbiasa berurusan dengan masalah ini, segera saya tahu bahwa problem yang dihadapi adalah meradangnya saraf sciatica, salah satu komponen ‘kabel’ saraf terpanjang dari tubuh manusia, di beberapa titik tertentu.

Sciatic Nerve

Umumnya karena tekanan yang terjadi di areal tulang punggung Lumbar (bawah) di ruas ke 4 dan 5.  Atau di areal Sacrum (dasar tulang punggung), tempat di mana saraf tersebut keluar dan mengarah ke kaki, merembet hingga ujung jari. Secara general kasus demikian pernah saya tulis di sini :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=58925310973

Namun problem yang saya hadapi tidak serupa dengan kondisi tesebut. Agak sedikit berbeda, secara aplikasi! Konon, kondisi ini biasa disebut dengan istilah Piriformis Syndrome!

 

KRITERIA

Berbeda dengan kasus yang pernah saya bahas dahulu, umumnya rasa sakit yang diderita dalam kasus Piriformis seperti ini, bisa saja dialami oleh orang-orang yang memiliki postur tidak harus membungkuk. Ada beberapa kriteria khusus yang saya temukan secara empiris, sesuai dengan perjalanan karir saya belajar serta berlatih yoga atau bertemu dengan banyak orang yang memiliki kasus demikian. Kriteria yang dimaksud seperti :

1. Kaki yang Lemah

2. Fleksibilitas yang Berlebihan

3. Terpicu Aktifitas Fisik

Tentunya tidak semuanya harus demikian, namun mayoritas boleh dibilang 3 kriteria itu adalah hal yang paling signifikan ditemui dalam kasus Piriformis.

Regular Pain Other Than L4-L5
Rasa sakit umumnya dialami penderita di titik seperti tergambar disini. Agak berbeda dengan mereka yang memiliki karakter tubuh “membungkuk’ (seperti yang tulisan saya terdahulu) yang acap merasakan rasa sakit di bagian punggung bawah (lumbar), dalam kasus ini areal itu malah jarang terekspos dengan rasa sakit yang hebat, rasa sakit lebih fokus berada di titik yang tergambarkan. Di bagian Lumbar (L4-L5) paling-paling hanya terasa kaku atau kurang nyaman untuk bergerak. Agak ribet dan buang-buang waktu kalau harus menjelaskan kenapa manusia dungeon kriteria 1 dan 2, adalah penderita potensial dalam kasus Piriformis Syndrome. Tapi yang jelas, mayoritas orang yang datang pada saya dan mengeluhkan sakit punggung seperti demikian, paling tidak biasanya mereka memperlihatkan kecenderungan untuk memenuhi kalau tidak kriteria nomor satu, ya nomor dua!  Sementara yang nomor tiga? Ya itu kasusnya seperti yang saya alami, terkena hantaman atau benturan. Dalam beberapa kasus lain, saya juga pernah menemukan orang yang melakukan olaharaga sarat benturan (high impact) atau mereka yang pernah mengalami ‘trauma’ akibat kecelakaan, gerakan tiba-tiba dan lain sebagainya, mengalami rasa sakit yang sama.

Beruntung juga saya mengalami ini, sehingga saya bisa mempelajarinya lebih mendalam, berdasarkan eksperimen yang dilakukan atas tubuh saya sendiri.

 

TERAPI YOGA

Awalnya saya terpikir untuk melakukan beberapa pose yoga yang lazim untuk menangani kasus sakit punggung seperti yang telah saya bahas sebelumnya (http://www.facebook.com/note.php?note_id=58925310973) dengan mengambil logika berusaha ‘membebaskan’ saraf sciatica dari tekanan gel ruas antar tulang yang bocor, dengan banyak melakukan gerakan melengkungkan punggung (back bend). Namun upaya ini saya tahu tidak akan bisa memberi kesembuhan yang cepat. Sementara waktu yang saya miliki untuk pulih agak sedikit terbatas.

Saya segera mengacu pada tulisan-tulisan BKS Iyengar, pakar yoga yang menjadi pioneer dalam dunia yoga untuk kesehatan. Untuk mencari tahu apa yang beliau lakukan untuk mengatasi hal ini? Supaya saya bisa lebih fokus dan terarah mengupayakan kesembuhan. Sembari mencari tahu secara logika mengapa ini kesembuhan bisa terjadi.?

Puji Tuhan atas pengetahuan dan ilmu beliau. Rangkaian asana yang dia tawarkan untuk menangani problem sciatica ternyata sangat manjur luar biasa! Sekali dicoba, saya langsung merasakan efek luar biasa di areal yang terasa sakit. Fungsi motorik langsung kembali normal dan rasa sakit berangsur-angsur hilang. Rasa kaku berkurang jauh. Hari kedua, kembali saya melakukan sequence yang sama, dua kali di pagi dan sore hari, hasilnya? Punggung saya langsung normal seperti sedia kala!

God bless Mr. Iyengar!!!

 

RANGKAIAN ASANA YOGA 

Berikut adalah rangkaian asana yang ‘harus’ dilakukan. Sebaiknya tidak dirubah urutannya, ditambah maupun dikurangi (saya sangat tidak menyarankan) terutama kalau memang ingin mendapatkan kesembuhan yang benar.

Suptha Padangusthasana
Pergunakan sabuk yoga (pergunakan tali kain atau semacam tali pengikat jubah mandi atau kimono apabila tidak memiliki) untuk membantu meluruskan satu kaki ke atas. Pastikan kaki yang bergerak ke atas dan kaki yang berada di tembok berada dalam keadaan lurus dan aktif. Tidak perlu menarik kaki terlalu dekat kemuka, yoga bukan masalah fleksibilitas, tapi gabungan antara fokus dan kemampuan mengontrol tubuh. Cukup pastikan bahwa otot paha belakang, betis teregang sempurna.

Lakukan perlahan-lahan, karena saraf sciatica merambat di bagian belakang kaki, dan apabila ia tengah meradang, acapkali membuat rasa sakit yang hebat saat ia berusaha diluruskan. Pastikan bahwa kaki berada dalam keadaan lurus, akan sangat percuma kalau dilakukan dengan lutut tertekuk, karena stimulasi yang diharapkan terjadi pada bagian punggung bawah, tempat saraf sciatica berasal, tidak akan berlangsung. Tahan selama 60 detik untuk setiap kaki.

—————

Parsva Suptha Padanghustasana

Setelah teracung lurus ke atas, turunkan perlahan-lahan kaki tersebut ke samping. Tetap dengan keadaan lurus dan aktif. Dorong tumit menjauh dari bokong, sehingga bagian belakang paha dan betis teregang secara sempurna terus menerus.

Dua rangkaian pose awal ini apabila dilakukan dengan benar, akan sangat mengurangi rasa sakit hebat yang diderita. Umumnya pelaku akan mengatakan bahwa mereka mendapatakn sensasi rasa hangat di areal punggung bawah, atau titik-titik dimana rasa sakit melanda.

—————

Badhakonasana

Duduk tegak, sambil menempelkan telapak kaki satu sama lain. Buka lutut selebar mungkin mengarah ke lantai. Apabila tidak memungkinkan letakkan balok yoga di sisi luar ujung lutut. Tekan lutut ke arah balok atau lantai tersebut. Tahan selama 60 detik.

—————

Upavista Konasana

Bentangkan kaki selebar mungkin. Tapi letakkan titik tengah tumit pada lantai, dengan memutar paha ke arah dalam. Sehingga kaki berada dalam keadaan aktif. Lingkarkan dua buah sabuk yoga pada telapak kaki, tarik dan panjangkan tangan sejauh mungkin ke arah pergelangan kaki untuk menegakkan punggung setinggi mungkin. Lakukan selama 60 detik!

Apabila sulit menegakkan tubuh di dua pose ini, tempelkan bagian belakang tubuh ke tembok. Ikuti bentuk tembok, agar tubuh bisa tegak lurus mengarah keatas, sehingga beban pada tulang punggung bisa tereliminir.

—————

Trikonasana (Adjusted)

Pose ini sulit untuk dilakukan dengan posisi sempurna, apabila piriformis syndrome sedang menyerang. Karena areal belakang pinggul yang sangat aktif dalam pose ini, biasanya menjadi kaku dan sakit luar biasa. Lakukan pose ini sesuai dengan contoh untuk bisa mendapatkan manfaat terapi secara maksimal.

Apabil sulit meletakkan tangan pada tulang kering atau pergelangan kaki, tempatkan balok yoga atau kursi di belakang betis kaki depan sebagai tempat menyenderkan tangan. Pastikan kaki menekan kuat lurus ke lantai saat putaran tulang punggung dilakukan, jangan mengandalkan pada fleksbilitas, karena ini akan memperparah beban pada saraf yang sedang sakit. Lakukan selama 60 detik untuk setiap sisi.

—————

Parsva Konasana

Sama dengan pose sebelumnya. Agak mustahil melakukan pose ini dengan benar, saat rasa sakit sedang menyerang. Pergunakan kursi sebagai alat bantu. Sehingga putaran pada tulang punggung bisa berlangsung secara maksimal dan kedua kaki dapat menopang proses perputaran tersebut dalam keadaan aman. Pastikan dada bagian bawah bergerak berputar ke atas. Lakukan selama 60 detik untuk tiap sisi.

—————

Bharadvajasana I

Pose berputar yang difasilitasi oleh kursi ini sebenarnya diperuntukan bagi mereka yang menderita obesitas, berusia lanjut atau memiliki masalah fisik sehingga sulit melakukan asana asli. Sangat berguna saat back pain sedang menyerang dan menyebabkan kemampuan fisik kita menurun jauh. Lakukan selama 30-60 detik untuk setiap sisinya.

Putaran pada punggung mampu meredakan ketegangan pada otot-otot penunjang tulang punggung. Menghilangkan rasa sakit serta rasa tidak nyaman di punggung bagian bawah.

—————

Bharadvajasana II

Sama dengan pose sebelumnya. Hanya sisi arah yang lebih terkonsentrasi untuk dapat berputar lebih jauh.

—————

Uthitta Marichiyasana

Mengaktifkan otot paraspinal (toot berpasangan penunjang tulang punggung) dan otot pengikat sendi pinggul, yang sering menjadi kaku sebagai kompensasi saat sakit punggung menyerang. Pemakaian alat bantu membuat perputaran itu bisa terjadi tanpa melalui rasa sakit yang berlebihan. Lakukan selama 30 detik!

Pastikan kedua kaki bertumpu kuat pada masing-masing props. Jangan biarkan lutut menekuk sama sekali untuk menghindari beban berlebihan di bagian bawah punggung.

—————

Ustrasana

Mengembalikan bentuk serta kekuatan tulang punggung. Pemanjangan yang dilakukan dengan melengkungkan tulang punggung mampu mengurangi rasa sakit, namun acap kondisi itu baru dapat dirasakan setelah pose ini dilakukan. Memperbaiki peredaran darah di bagian bawah punggung. Yang juga dapat mengurangi rasa sakit serta mempercepat efek penyembuhan. Lakukan selama 60 detik.

—————

Viparita Dandasana

Mampu mengurangi rasa sakit di bagian punggung. Meningkatkan kapasitas paru-paru sehingga membuat pernafasan lebih teratur yang secara jangka panjang membuat rasa sakit bisa teratasi dengan lebih baik. Meningkatkan kelenturan tulang punggung (secara benar). Lakukan selama 60 detik.

Jangan lakukan pose ini di awal saat sakit punggung menyerang. Karena dapat menstimulasi saraf sciatica secara berlebihan. Walau dalam jangka panjang tidak memiliki efek buruk, namun dalam jangka pendek dapat membuat rasa sakit menjadi lebih terasa.

—————

Sirsasana

Peregangan tulang punggung terjadi secara luar biasa maksimal di sini. Berbeda dengan pose aslinya, pemakaian tali dapat memberikan peregangan tanpa penekanan sama sekali pada bagian kepala. Itulah sebabnya dalam tradisi Iyengar, konsep therapy dalam posisi headstand memakai tali seperti ini, hampir selalu dipergunakan untuk setiap problem terkait dengan fungsi muskuloskeletal tubuh.

Jangan lakukan pose ini bila Anda bukan pelaku yoga terlatih atau setidaknya dilakukan hanya dengan pengawasan instruktur yang terlatih serta paham metode ini. Pun dilarang dilakukan oleh perempuan yang sedang mengalami menstruasi.

Bertahanlah selama 3-5 menit.

—————

Salamba Sarvangasana

Kursi memungkinkan pose yang bersifat sebagai ‘menenangkan’ ini dilakukan dalam waktu yang lama. Pemakaian selimut untuk melindungi leher juga memberikan efek ‘penguncian dagu’, yang membuat kelenjar tiroid dibanjiri oleh darah segar dari paru-paru. Membuat metabolisme tubuh menjadi lebih sempurna dan memberikan efek relaksasi serta kenyamanan yang sangat berguna untuk memerangi serta mempercepat penyembuhan dari sakit punggung.

Jangan lakukan pose ini bila Anda bukan pelaku yoga terlatih atau setidaknya dilakukan hanya dengan pengawasan instruktur yang terlatih serta paham metode ini. Pun dilarang dilakukan oleh perempuan yang sedang mengalami menstruasi.

Lakukan selama 5 menit.

—————

Setubandha Sarvangasana

Efek penguncian dagu juga didapat disini memberikan efek yang sama dengan pose sebelumnya. Hal sama berlaku untuk paru-paru. Permukaan guling memberikan efek pelengkungan yang dapat meluruskan tulang punggung sehingga kesalahan postur dapat diperbaiki. Lakukan selama 5 menit.

Juga jangan lakukan pose ini di awal saat sakit punggung menyerang. Karena dapat menstimulasi saraf sciatica secara berlebihan. Walau dalam jangka panjang tidak memiliki efek buruk, namun dalam jangka pendek dapat membuat rasa sakit menjadi lebih terasa.

—————

Savasana

Merupakan langkah penutup yang dapat mengkompilasi semua efek positif latihan yang dilakukan untuk dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk merevitalisasi tubuh.

Pemakaian guling memaksimalkan pemanjangan tulang punggung, mengangkat posisi paru-paru dan melebarkan otot diafragma sehingga pernafasan berlangsung dengan baik. Otot perut juga teregang secara horisontal yang menurut BKS Iyengar dapat memberikan efek menenangkan. Pemakaian penutup mata, dapat menambah sensasi fokus dan rasa tenang sehingga memaksimalkan rasa relaks. Demikian dengan penambahan beban pada paha, menurut Geeta S. Iyengar, upaya ini mampu membantu menenangkan sistem saraf. Don’t ask me why, it works!

Demikian sequens yang bisa dilakukan selama sakit punggung menyerang. Semoga bisa membantu! Jangan lupa, yoga bukan obat ajaib, latihan rutin adalah kunci dari semua ini bisa berfungsi dengan baik.

#Yoga Mengatasi Lower Back Pain

Banyak orang sering mengeluh sakit punggung. Kali ini salah satu bentuk dari sakit punggung yang paling umum akan coba dibahas di sini dan bagaimana cara melawannya lewat berbagai pose (asana) yoga sederhana.

Metode terapi yoga yang dipergunakan di sini dirintis oleh BKS Iyengar, seorang tokoh yoga terkemuka di dunia. sebuah metode yang telah diadaptasi dengan begitu luas oleh berbagai kalangan, termasuk dunia medis sekalipun. Karena penelitiannya yang begitu scientific, mendalam serta mampu memberikan berbagai jawaban terhadap banyak kondisi yang belum terjawab secara medis konvensional.

 

APA ITU SCIATICA?

Tulang punggung manusia itu sebenarnya tidak lurus secara harfiah. Ada sedikit lekukan tertentu di beberapa bagiannya. Sayangnya secara tidak tersadari sering sekali postur harian tubuh manusia bergerak ke arah yang berlawanan dengan lekukan alamiahnya. Pergerakan tersebut umumnya adalah membungkukkan tubuh ke arah depan. Sepintas terlihat santai dan nyaman. Namun berdasarkan bagan berikut bisa terlihat betapa buruknya efek membungkuk bagi postur manusia keseluruhan.

Postur seperti ini akan membuat tekanan konstan pada bagian-bagian tertentu di sepanjang areal tulang punggung. Sakit pada bagian tengkuk, pinggang dan postur membungkuk adalah salah satu akibat nyata dari kebiasaan ini. Selain hal itu, pembungkukkan seperti ini memberikan tekanan yang berlebihan organ-organ yang dalam tubuh seperti paru-paru, jantung serta sebagian organ pencernaan.

Namun karena fokus pembahasan kali ini pada rasa sakit di bagian punggung khususnya untuk areal saraf sciatica (siatika), kita hanya akan menekankan pada akibat yang timbul dari postur ini ke pada bagian bawah tulang punggung (lumbar) manusia. Karena pose membungkuk tadi tidak sesuai dengan bentuk alamiah keseluruhan tulang punggung.

Selain mempercepat proses pembungkukan areal kypho (hyperkhiposis) -seperti yang banyak dialami oleh orang lanjut usia- juga apabila digabung dengan gaya hidup yang buruk (pola makan, jenis makanan, stres, istirahat serta jarang berolahraga) ditenggarai pose bungkuk akan membuat tulang mudah terserang pengeroposan (osteoporosis)

Tulang punggung sebenarnya adalah sederetan ruas dengan dilengkapi bantalan seperti gel yang menjembatani di antaranya. Penampang gel tersebut berisikan inti bernama nucleus dan pembatas pinggirannya yang bernama annulus.

Postur bungkuk yang buruk tadi akan merusak keharmonisan antara kondisi ruas-ruas tulang. Di mana sisi depan mengalami penekanan lebih banyak sehingga mempercepat terjadinya proses perusakan bagian cakram (gel) pelindung antar ruas.

Nanti isinya dari arah yang tertekan pada satu sisi itu akan bergerak menggeser kebelakang kemudian merobek bagian annulus, lalu menekan sisi saraf yang berada di belakang ruas tulang punggung.

 Kondisi ini yang biasa disebut orang awam dengan istilah ‘Saraf Terjepit’ atau Pinch Nerve, di mana saraf terjepit oleh tekanan inti gel yang keluar. Tekanan saat membungkuk biasanya akan terjadi pada area ruas tulang punggung bawah (lumbar) ke lima dan ke empat (L5-L4) dan menekan saraf sciatica(siatika) yang merupakan saraf terbesar serta terpanjang dari seluruh struktur tubuh manusia. Panjang saraf siatika menyusuri punggung bawah hingga bagian belakang paha, betis sampai ke telapak dan ibu jari kaki. Karena itu nama yang popular dari kondisi ini adalah sciatica.

Oh ya, saya bukan salah ketik Lumbar dari kata ‘Lumbal’, karena secara basic scientific anatomy, kata ini lebih universal dipakai ketimbang istilah ‘lumbal’ dari para dokter Indonesia pada umumnya yang lebih mengacu ke istilah kuno peninggalan pengaruh kedokteran eropa.

Kaum awam juga kadang mempercanggih deskripsi problem yang diderita dengan menduplikasi istilah yang mereka dengar dari sang dokter, HNP -Herniated Nucleus Pulposus, yang sebenarnya lebih menjelaskan pada bocornya inti gel keluar dari tempatnya, ketimbang areal saraf mana yang sedang ‘sakit’.

Gejala yang umum dialami adalah rasa sakit (ringan hingga hebat) di bagian punggung bawah merambat ke paha belakang hingga ke jari-jari kaki. Kadang hanya berupa rasa menggelitik, kesemutan atau mati rasa. Namun pada tingkat tertinggi mampu menimbulkan rasa kebas di bagian kaki menyebabkan ketidak leluasaan hingga ketidak mampuan untuk menggerakkan bagian kaki. Apabila diperhatikan gambar di mana posisi saraf sciatica (yang telah dibedakan secara warna dar struktur keseluruhan saraf) rasa sakit tersebut bisa dimengerti.

 

POSE YOGA

Secara sederhana tradisi Iyengar memberikan jalan keluar bagi saraf terjepit tersebut. Apabila inti gel tadi merembes keluar dan menekan saraf akibat gerakan membungkuk ke depan, maka yoga memberikan jalan keluar dengan cara membalikkan gerakan tadi ke arah belakang. Logis apabila kondisi tersebut akan meringankan tekanan gel pada saraf dan lewat intensitas tertentu terbukti mampu membuat gel tersebut masuk kembali ke posisi semula dan membebaskan saraf sama sekali. Setidaknya meringankan tekanan pada akar saraf yang terjepit

Berikut sediakan waktu 30 menit dan latih pose-pose di bawah ini rutin selama 5-6 hari perminggu selama 2 bulan. Biasanya para penderita akan merasakan perubahan perlahan secara signifikan. Setelah terjadi, bergabunglah dengan studio yoga yang memiliki kredibilitas baik. Utarakan maksud Anda untuk membebaskan diri dari kondisi sciatica :

1. TRIKONASANA

Ini pose yang bisa dilakukan apabila problem siatika belum terlalu parah atau telah mereda. Apabila telah terlalu parah, gunakan bantuan balok kayu seperti gambar bawah (bila perlu gunakan alat bantu yang lebih tinggi seperti kursi). Penyelarasan (alignment) tulang punggung, susunan saraf, fleksibilitas pinggul dan banyak lagi manfaat positif terjadi di sini. Rajin melatih pose ini dapat menjamin kesehatan postur tubuh Anda. Lakukan selama 15 detik untuk setiap sisi. Ulangi sebanyak 3-4 kali juga setiap sisi.

2. USTRASANA

Pose ini adalah kelanjutan dari pose pertama. Selain lebih jauh membebaskan saraf, pose ini juga melatih kelenturan tulang punggung, pinggang serta kekuatan paha untuk menopang tubuh lebih kuat untuk berdiri lebih tegak. Lakukan selama 30-45 detik

3. UPAVISTHA KONASANA

Pose ini membuat pinggang menjadi lebih fleksibel serta memberi sensasi lengkungan yang tepat bagi areal punggung bawah (lumbar) dengan cara menarik tali sambil menegakkan tubuh dengan mengembangkan dada serta menempelkan bahu pada tembok. Lakukan selama 60 detik.

4. BHARADVAJASANA KURSI

Pose ini akan melembutkan otot latisimus dorsi yang membantu menopang tubuh terutama bagi mereka dengan postur membungkuk. Sering sekali bagian bawah otot tersebut menjadi sangat tegang dan mudah menjadi lemah. Saat ia melemah, cedera punggung makin mudah terjadi. Ini pose yang sangat baik untuk meringankan bebannya. Lakukan selama 15-30 detik setiap sisi.

5. SETU BANDHA SARVANGASANA

Pose ini membuat tulang punggung kembali ke lengkungan awalnya. Sekaligus membuat saraf siatika terasa nyaman akibat tekanan yang dialami mereda. Guling langsung diaplikasikan kepada penderita siatika yang cukup parah. Setelah membaik bisa diganti dengan balok yoga, sehingga lengkungannya menjadi lebih maksimal. Lakukan selama 3-5 menit.

6. SAVASANA

Tutup gerakan ini dengan Savasana (Dead Men’s Pose) fase relaksasi 10-15 menit. Merupakan sebuah keharusan! Tidak bisa tidak, karena fase ini memberi kesempatan tubuh merangkum seluruh manfaat dari ‘reparasi’ yang telah dilakukan.

 

TIDAK HARUS LEWAT OPERASI

Penanganan a la yoga ini menjadi semacam alternatif bagi penderita saraf terjepit selain menenggak obat penahan sakit, fisioterapi, pijat chiropractic ataupun meja operasi.

Semua faktor tadi datang sebagai elemen eksternal atau luar tubuh, sehinggai kontrol terhadap postur menjadi kurang. Sehingga suatu saat siatika bisa menyerang kembali, walaupun lewat terapi telah dinyatakan sembuh. Dan tidak ada satupun dari metode tadi yang bisa dihargai dengan biaya murah. Terutama bagi operasi yang rumit, biayanya sangatlah mahal, tingkat keberhasilannya pun masih belum berkisar di angka 100 persen.

Melakukan terapi yoga seperti ini setidaknya mampu menghadirkan rasa awas dan kemampuan penguasaan terhadap tubuh setiap saat. Mencegah terjadinya cedera serupa di masa datang. Alat bantu yang diterapkan di sini juga mampu membantu areal tubuh yang sakit menjadi lebih relaks. Karena pada saat yang sama organ pernapasan juga mendapatkan support maka rasa relaks tadi akan mencapai level maksimal. Setidaknya ini adalah proses awal dari upaya penyembuhan.

Lokasi : Studio Jakarta Do Yoga

Model : Ade Roseyani – Diana Dewi

Fungsi Yoga Dalam Perawatan Sistem Tubuh Manusia

“Kok bisa nebak segini canggih sih? Lo dukun atau paranormal?”

Sebuah kalimat tanya lahir, waktu saya sedang berlatih yoga dengan salah seorang saudara dekat. Ingin terbahak rasanya. Kebetulan kami baru pertama kali berlatih bersama, dan dia bolak-balik memperlihatkan kenaifannya dalam mempergunakan tubuh untuk beryoga. Well, setidaknya beryoga dengan tradisi yang biasa saya lakukan, Iyengar. Kenaifan tersebut membuat ia melahirkan komentar-komentar panjang lebar, mayoritas berupa keluhan. Kadang karena karena ototnya yang teregang luar biasa, keringat yang membanjir, nafas yang memburu, jantung yang berdetak lebih cepat dan lain sebagainya.

Entah karena rasa kedekatan kekerabatan atau karena usaha kerasnya, saya berlaku cukup sabar di sini -sabar, untuk ukuran saya tentunya- dengan secara attentive mengakomodasi semua keluhannya dengan memberikan bantuan alat bantu ataupun adjustment dengan mempergunakan kaki serta tangan saya.

Alasan dia yang utama berlatih yoga bersama dengan saya, adalah berentet keluhan yang dia miliki terhadap tubuhnya. “Capek gue, sakit ini-itu, pengen gue betulin ah, badan gue ini”. Waktu kami mulai berlatih pertama kali, saya sudah tertawa sendiri waktu dia memulai pose relaksasi awal sebagai pembuka sesi latihan bersama, suptha badda konasana, belum-belum memulai ia sudah merebahkan dirinya di atas guling dengan mendongakkan kepalanya menjauh dari dada. Saya bertanya sambil melipat selimut untuk dijadikan bantal mengembalikan posisi kepalanya ke tempat yang lebih baik, “Kalau tidur, susah gak?” Ia terperangah, “Banget! Kok tau?” Saya cuma tersenyum kecil.

“Pernah asma? Atau mungkin masih?” Tanya saya lagi, sewaktu saya membenarkan posisi bahunya yang menjorok jauh ke depan saat kami sedang berlatih beberapa pose forward bend. “Asma sih nggak, tapi setiap pagi gue selalu kesulitan bernafas, dan kalau lagi capek, pasti gue susah napas, kok lo tau sih?” Jawabnya lagi sambil tidak lupa mengutarakan ketakjubannya.

“Sakit lambung lo parah, gak?” Tanya saya saat membantu menempatkan tubuhnya di pose Dandasana (staff pose) dengan menempelkan kaki ke tembok. “Ah, gila.. Iya, banget!”. Saya terbahak saat ia tidak tahan lagi untuk mencap saya dukun atau paranormal setelah beberapa tebakan saya tentang kondisinya, hit the bulls eye.

It has nothing to do with that, at all!

 

BUKU KOMIK

Saya juga tidak bermaksud pamer atau apa dengan bertanya kondisinya. Disamping menegaskan, saya juga ingin belajar dari apa yang saya lihat. Tubuh manusia sebenarnya menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupannya, terutama kehidupan kesehatan. Namun karena manusia adalah mahluk spesial, apa yang terjadi di satu manusia belum tentu menggambarkan hal yang sama di manusia lain. Untuk itulah saya harus bertanya, kalau-kalau saya bertemu dengan kasus yang spesial, tentunya saya bisa belajar dari manusia pembawa kasus spesial ini lebih jauh lagi, bukan?

Buat mereka, gunanya apa? Ya setidaknya kita bisa mencari jalan keluar dari problematika apapun yang mereka hadapi itu? Bisa dengan mencari sequence pose yoga terbaik yang harus sering dilakukan (belakangan ini hanya saya lakukan, apabila saya tahu, orang yang saya bantu adalah pelaku yoga yang rutin) atau setidaknya ia bisa tergerak menghentikan kebiasaan buruk yang menjadi penyebab.

Untuk kerabat saya ini, tubuhnya benar-benar seperti ‘buku komik’ penuh gambar, kata-kata dan warna, yang luar biasa mudah dibaca. Makanya tebakan saya hampir semuanya tepat. Saat tidur di pose suptha badda konasana, ia tidur dengan menjauhkan dagunya dari dada, itu indikasi bahwa kelenjar thyroid yang ada di lehernya berada dalam posisi terstretch terus menerus, dalam pengalaman empiris saya, kondisi ini membuat kelenjar penting metabolisme tubuh ini berada dalam keadaan ‘kering’, fungsi yang terganggu dari kelenjar ini menghasilkan satu gejala klasik, susah tidur!

Gangguan pernafasan bisa saya tebak dari cara dia menempatkan bahunya yang berputar jauh dari sumbu semestinya. Mengakibatkan ruang rongga dadanya menyempit, dan paru-parunya hanya bekerja sepertiga dari kapasitas normalnya. Gaya bernafasnya pun mudah ditebak, mengaktifkan otot dada dan bahu.

Penyakit lambungnya bisa diperkirakan dari cara dia menempatkan bagian dadanya yang ‘mendekat’ ke arah bagian perut. Sehingga isi rongga dada dengan paru-paru yang tergolong ‘raksasa’ membebani posis organ pencernaan terdekat. Orang seperti ini biasanya memiliki kerja organ lambung yang abnormal.

Dan yang lebih lucu lagi, saya tinggal ‘memvonisnya’ dengan satu pertanyaan final, “Sakit punggung pasti dong?”. Matanya terbelalak lebar, “Ah, gila lo! Gue kan mau yoga sama elu, gara-gara punggung gue itu ‘killing’ gue banget!!!”. Haha, gampang sekali diagnosanya. Tubuh membungkuk pasti identik dengan stress di areal lumbar yang menghasilkan tekanan pada ruas 4-5-nya thus menghasilkan kebocoran gel yang akan segera menekan saraf sciatica. Cukup untuk memberikan efek sakit punggung mengganggu acap luar biasa menyakitkan.

So, is it that hard to see?

 

SISTEM TUBUH MANUSIA

Seorang sahabat yang berprofesi sebagai dokter memuji pengetahuan saya tentang tubuh manusia. Sebuah pujian yang lebih pantas untuk membuat malu ketimbang dibanggakan, walaupun saya sangat bersyukur, karena apa yang saya tahu dibanding dengan dirinya, lebih bersifat #101, sangat mendasar! Saya ingat buku anatomi yang saya pergunakan untuk belajar detil tentang fungsi fisiologis pun ditertawakan oleh ibu saya, karena buku itu walau sangat informatif, sebenarnya materi untuk anak SD belajar tentang tubuh manusia di US sana. “Kenapa gak minta mama aja, buku beginian sih banyak banget yang lebih bagus” ledek beliau yang juga seorang dokter.

Itu sebabnya pengetahuan saya sebenarnya lebih ada di level malu-maluin ketimbang membanggakan.

Tapi berbeda dengan ahli medis konvensional yang lebih tertarik menempatkan terapi farmasi atau penanganan kuratif-invasif eksternal sebagai jalan keluar, keterbatasan pengetahuan membuat saya lebih mengeksplorasi kemampuan tubuh manusia untuk mengobati diri sendiri semaksimal mungkin. Dan eksplorasi saya itu menjadi terfasilitasi berkat tradisi yoga yang saya dalami. BKS Iyengar yang namanya dipergunakan sebagai tradisi ini, juga awalnya tidak menyadari hal tersebut, ia baru menemukan fenomena ini saat tubuhnya yang di masa muda ringkih oleh gerogotan TBC, sembuh secara alami lewat yoga yang dilakukannya.

Penelitian yang dilakukan secara naluriah menuntun tradisi yang dikembangkannya perlahan-lahan menjadi perkawianan integral antara yoga dan dunia medis modern, hingga hari ini.

Berbeda dengan bahasa rumit atau pola pikir medis konvensional yang terkait erat dengan farmakologi, pemikiran tradisi Iyengar lebih terkait dengan kemampuan tubuh menyembuhkan diri sendiri yang jauh lebih sederhana serta mudah dimengerti. Pemahaman tentang sistem tubuh manusia dan stimulasi yang bisa diberikan oleh setiap pose yoga adalah syarat mutlak mengapa konsep penyembuhan bisa terjadi di sana. Penyembuhan yang berlangsung secara alamiah. Walau bukan itu tujuan utama dari yoga, tapi it’s nice to know that doing something is going to give you a bonus in other side.

Singkat kata, this is one of the secrets why I seem to be having some kind of a sophisticated knowledge on human body. Penguasaan tentang sistem yang ada di dalamnya!

 

SISTEM SIRKULASI DARAH

Sirkulasi darah adalah salah satu elemen utama dalam tubuh. Darah mengangkut oksigen dan beragam substansi penting yang diperlukan ke seluruh penjuru. Secara normal seluruh penjuru tubuh manusia akan tersentuh oleh darah. Sistem sirkulasi ini memiliki semacam alat generator bernama jantung, ia bertugas memompa darah keluar dan masuk.

Keluar membawa oksigen segar, masuk untuk kemudian dioper kembali ke paru-paru dan diisi oleh oksigen. Seluruh bentuk peredaran darah ini sangat menentukan kualitas hidup seorang manusia. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa jantung yang sehat menjadi indikator mutlak tingkat kesehatan seseorang.

Asana (olah postur) yoga dapat membantu kesehatan sistem sirkulasi darah tersebut lewat berbagai macam cara.

Pose back bend semacam ini membuat jantung berada dalam kondisi teregang secara longitudinal, secara alamiah ia akan berada dalam situasi stimulatif yang bersifat sangat positif. Seperti mendapatkan rangsangan layaknya otot yang dipijat untuk mendapatkan aliran darah lebih banyak. Ahli bedah jantung dalam keadaan darurat, sering melakukan hal yang sama dengan memijat langsung untuk memancing reaksi dari jantung. Dalam yoga kita melakukannya secara alamiah dan dekat dengan keseharian.

Secara empiris menurut BKS Iyengar, tindakan ini juga mampu menghilangkan sumbatan saluran koroner. Bagi penderita darah rendah, kondisi ini bisa jadi agak menyulitkan, mempergunakan alat bantu seperti ini, membuat back bend bisa menjadi fase yang nyaman untuk mereka.

Selain itu, sistem sirkulasi darah juga bisa distimulasi dengan mempergunakan rangsangan melalui upaya pembolak-balikkan posisi tubuh. Mempermainkan efek gravitasi, membuat darah memiliki efek dorong yang lebih aktif guna mencapai atau meninggalkan organ tubuh. Jantung teringankan kerjanya karena ia tidak perlu terlalu keras memompa darah agar ‘kembali’ , beberapa bagian organ tubuh yang jauh dari posisi gravitasi seperti otak, tiroid, mata dan organ mulut misalnya akan mendapatkan darah segar penuh oksigen lebih banyak dari biasanya.

Kesehatan saluran darah yang juga menentukan sistem sirkulasi pun bisa terbantu dengan stimulasi semacam ini, untuk menambah daya ‘dorong’ dari darah dalam menjebol sumbatan akibat tumpukan lemak yang berlebihan, misalnya.

 

SISTEM RESPIRATORI

Kadang hidup manusia dilihat dari kondisinya yang masih bernafas atau tidak. Respiratory atau pernafasan memang diidentikkan dengan daya hidup manusia. Tugas organ pernafasan adalah menghirup oksigen dalam jumlah yang cukup, dan menghembuskan karbon dioksida sebagai ‘ampas’ metabolisme dari tubuh manusia.

Generator dari sistem ini supaya bisa bekerja dengan sempurna adalah sebuah organ besar bernama paru-paru, ia bertugas memasukkan oksigen ke dalam darah yang diterimanya dari jantung. Lalu oksigen tersebut diberikan ke seluruh penjuru organ tubuh yang memerlukannya.

Walau terletak di bagian rongga dada yang memiliki otot besar (pectoral) serta terkoneksi dengan otot bahu yang sangat dominan, kerja paru-paru sejatinya ditentukan oleh sebuah otot internal yang melintang dan berbentuk kubah di antara rongga dada dan perut, otot tersebut bernama diafragma. Ia akan bergerak turun ke bawah saat kita menarik nafas memberi ruang kepada paru-paru untuk mengembang secara maksimal agar mampu menyerap oksigen sebanyak mungkin, ia lalu akan bergerak ke atas untuk mendorong paru-paru mengecil agar karbon dioksida dapat dibuang sebanyak-banyaknya.

Secara alamiah, manusia di usia dini mempergunakan otot ini secara maksimal. Perhatikan betapa bayi atau anak kecil akan bernafas dengan menaik turunkan perutnya secara teratur. Sebuah kebiasaan yang sering ditinggalkan saat manusia beranjak dewasa. Jadi jangan heran, semakin dewasa kita, semakin sering problematika pernafasan datang menyerang.

Asana Yoga dapat menstimulasi kondisi paru-paru sedemikian rupa hingga kesehatannya selalu terjaga dengan baik. Setubandha Sarvangasana ini misalnya, perhatikan betapa dada berada dalam kondisi terbalik, sehingga paru-paru yang menyempit akibat kesalahan postural misalnya, mau tidak mau akan mengembang mengikuti lengkungan yang dilakukan. Selain membuat areal dada dipenuhi oleh darah, kondisi demikian memaksa paru-paru untuk aktif akibat rangsangan yang diterimanya.

Daya tarik gravitasi juga membuat otot diafragma yang tidak terpakai secara maksimal dan mungkin mengeras, menjadi lebih aktif serta lebih elastis. Sekaligus melepaskan kontraksi berlebihan pada organ perut, itulah sebabnya banyak pelaku yoga yang memiliki problema pencernaan, pasca melakukan pose ini, merasakan kepalanya pusing. Kita harus segera meng-alter efek dari pose ini dengan memberikan pose restorative lain yang berlawanan fungsi.

Di sisi lain tidak semua orang yang mengalami problematika pernafasan bisa mendapatkan treatment seperti demikian. Mereka yang memiliki fenomena dada cekung (tulang dada/sternum-nya agak menjorok ke dalam) secara alamiah pasti akan mengalami kesulitan untuk bernafas apabila pose di atas diaplikasikan secara mendadak.

Segera adaptasikan dengan pose savasana bersanggakan guling seperti di atas ini, untuk membuat paru-parunya terangkat dan berfungsi lebih baik, otot diafragma pun otomatis bisa bekerja dengan lebih sempurna.

 

SISTEM LIMFATIK

Ini adalah sistem pertahanan tubuh kita dalam membuang racun internal kelenjar dan menjaga tubuh kita dari serbuan ‘alien’ yang mungkin merugikan kesehatan. Kerjanya ditentukan oleh beragam saluran serta kelenjar yang tersebar di seluruh tubuh, terutama di bagian lipatan-lipatan sendi. Sayangnya walaupun vital, sistem ini tidak memiliki generator layaknya sistem pernafasan atau darah. Kerjanya murni distimulasi oleh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh. Maka apabila kita ingin fungsi sistem ini berjalan dengan sempurna mau tidak mau kita harus selalu ‘bergerak dengan dosis yang tepat’.

Itulah sebabnya orang yang sakit dan divonis harus beristirahat total lalu menerjemahkannya dengan tidak pernah pergi dari tempat tidur, biasanya justru sembuh lebih lama ketimbang mereka-mereka yang beristirahat secara wajar. Atau mereka yang malas bergerak, lebih mudah terserang penyakit ketimbang rekannya yang lebih aktif.

Namun bukan berarti kita harus secara over dosis menjadi aktif. Karena apabila hal tersebut dilakukan, bukannya menguat, sistem limfatik kita bisa jadi malah seperti kehabisan energi dan melemah sehingga mudah dikalahkan oleh hal-hal negatif yang muncul dari luar maupun dalam tubuh.

Utkatasana adalah salah satu contoh pose yoga yang sangat mengaktifkan sistem limfatik tubuh kita. Lihat betapa seluruh persedian utama tubuh manusia teraktifkan di pose ini. Karena seperti telah diutarakan di atas, kelenjar limfatik umumnya banyak bercokol di areal tersebut, otomatis kondisi demikian membuat sistem pertahanan ibarat ‘digertak’ dan menjadi lebih aktif dan reaktif terhadap segala macam gangguan.

Bagi mereka yang memiliki keterbatasan kekuatan karena perkembangan usia ataupun jam terbang yoga yang masih minim, pemakaian alat bantu seperti di samping ini dapat memaksimalkan hasil yang ingin didapat tanpa harus kehilangan detil alignment dari masing-masing pose.

‘Menggertak’ sistem limfatik ini lewat asana yoga, juga sebenarnya tidak terlalu sulit. Hampir seluruh tradisi yoga yang memaksimalkan pemakaian asana sebagai salah satu kegiatan rutin, bisa dimanfaatkan dan menjadi pilihan. Contohnya seperti sekuel Surya Namaskar yang dilakukan secara rutin sesuai kemampuan.

 

SISTEM SARAF

Segala macam aktivitas yang terjadi pada tubuh, terkait erat dengan sistem saraf tubuh kita. Sistem ini sangat kompleks, terdiri dari 3 elemen penting : Otak, susunan saraf tulang belakang (spinal cord) dan saraf itu sendiri. Koordinasi antar sistem terjadi akibat kerjasama triliunan sel terkait bernama neuron, yang saling berhubungan lewat semacam sensasi kejut listrik dan berlangsung secepat kilat lewat jaringan yang berbentuk mirip dengan sambungan kabel.

Sistem saraf tubuh kita ada yang berbentuk kumpulan saraf mengatur fungsi organ dalam tengkorak (cranial), tersentralisasi di tulang punggung (central), kemudian tersebar lewat saraf tepi ke tangan dan kaki (peripheral) atau yang bersifat autonomikal, mengatur kerja organ-organ vital tubuh (autonomic).

Mirip dengan kerja sistem limfatik, sistem saraf membutuhkan ‘pergerakan’ sebagai ‘penggertak’ agar ia bisa bekerja secara maksimal setiap saat. Dan karena ia ‘bertengger’ pada tulang punggung yang memiliki tugas lain sebagai penyangga tubuh, fitalitas sistem saraf sangat bergantung pada kesehatan organ tempatnya ‘menumpang’ hidup ini.

Oleh karena itu perawatan struktur tulang punggung lewat stimulasi yang diberikan oleh asana yoga dengan gerakan memelintir, melengkungkan atau membungkukkan punggung dapat juga memberikan efek sangat positif bagi sistem saraf ini. Meminjam istilah yang dipergunakan oleh salah satu tradisi yoga, tulang punggung itu ibarat ‘batang baterai’ yang bisa ‘direcharge’ dengan mempergunakan asana yoga.

Seperti contoh di samping ini, Bharadvajasana, pose klasik -sangat mirip dengan salah satu gerakan ritual keagamaan salah satu agama terbesar di dunia- mampu menjadi contoh betapa gamblang stimulasi sistem saraf pusat itu bisa dilakukan dengan melakukan asana yoga. Tidak heran apabila banyak pelaku yoga yang setelah melakukan pose ini (dengan catatan : apabila dilakukan dengan benar), kemudian merasa tubuhnya lebih segar atau kehilangan rasa kantuk.

Kecuali bagi penderita migraine atau scoliosis yang tidak bisa sembarangan melakukan pose ini tanpa adjustment atau asana lain untuk ‘memperhalus’ efek yang akan mereka terima dari pose ‘memelintir’ ini. This, needs ‘jam terbang’ atau pemahaman lebih jauh tentang ‘penetrasi’ sebuah pose yoga terhadap tubuh manusia.

 

MENGUASAI HAL FUNDAMENTAL

Sebenarnya terkait masalah kesehatan, menguasai tubuh manusia secara anatomis fisiologis bagi seorang pecinta yoga tidaklah terlampau sulit. Karena pendekatannya bukan seperti seorang ahli medis yang memang diharapkan memberikan kesembuhan. Meminjam istilah sahabat pecinta yoga yang kebetulan seorang dokter

“yoga bukan pengobatan, karena untuk bisa masuk di klasifikasi tersebut dibutuhkan dosis yang tepat, serta mampu diaplikasikan secara general ke banyak orang”

Yoga tidak memiliki ‘dosis’ yang general, ia membutuhkan pendekatan customized yang berbeda-beda di setiap orang. Rumit? Tidak, sama sekali tidak! Asal kita mau memulai dengan membangun pemahaman tentang tubuh manusia secara fundamental, melakukan pendekatan customized seperti itu tidaklah terlalu sulit. Menguasai perawatan sistem tubuh seperti detil yang telah terurai di atas adalah salah satu kuncinya. Terkadang kerapian sistem ciptaan Tuhan ini begitu mencengangkan, karena keterkaitannya satu sama lain. Satu elemen saja terganggu, biasanya akan menimbulkan efek domino kerusakan pada sistem lain.

Lucunya, kadang dengan yoga, satu elemen yang rusak tadi, menjadi baik dan rangkaian penyembuhannya yang ditimbulkan bisa bersifat seperti efek domino juga. Jadi apa yang saya lakukan di awal cerita ini, sebenarnya lebih ke pemahaman saya terhadap hal yang bersifat fundamental. Bukan hal yang rumit atau tidak bisa diukur dengan pasti.

It’s just a human body system, that you need to understand, nothing else!

Saya dan Menulis Buku

Banyak yang menilai saya punya dua kepribadian. Keseharian, tampil tidak serius, seenaknya serta jauh dari kesan intelektual. Lalu dunia tulis menulis, dimana saya membawa pribadi yang bertolak belakang jauh, serius, berat dan terkesan cerdas. Apa berarti saya ahli menulis? Punya pendidikan khusus? Gak juga. Ihwal saya menulis, sebenarnya klise, saya suka membaca. Bahkan tergolong kutu buku, sulit dipercaya memang, but it is! Sejatinya semua yang suka membaca, mudah menulis. Minimal, karena rekaman kosa kata di kepala, plus alur informasi yang tergolong membludak memenuhi memori otak.

Kemudian saya tercemplung menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah. Yang diawal menuntun (kalau gak bisa dibilang menjebak) saya untuk rutin menulis, setidaknya ‘editors note’ di tiap edisi. Lama-lama job desk ini berkembang dalam rapat redaksi untuk membantu meringankan pekerjaan tim. Sekaligus mengusung semangat kebersamaan. As a leaderI should lead from the very basic subject, menulis

Berkembang-berkembang-berkembang, tulisan saya mulai memenuhi banyak wadah. Majalah sendiri lalu blog dan kemudian media cetak lain yang menganggap saya sebagai praktisi (dalam beberapa bidang) yang ahli mengolah kata. Banyak praktisi hebat, tapi saat disuruh mengetik isi kepala mereka, jari-jari tangannya mendadak gagu seperti sedang sariawan. Tulisan ini mulai lah didesak untuk didokumentasikan dalam bentuk buku, juga muncul tawaran untuk menulis buku dengan subjek lain. Lama-lama desakan ini menggoda juga. Kalau tadinya didesak, mulailah saya hunting mencari penerbit.

 

Penerbit

Sama seperti penulis kebanyakan, awal karir menulis buku, saya bukan tipe penulis berbakat yang mendapat anugrah dikejar-kejar oleh penerbit. Saya yang harus hunting mencari-cari sendiri. Mulai dari pendekatan ke penerbit besar yang menerbitkan buku teman dekat, sampai ke mencari alamat kontak penerbit di back cover buku apapun yang saya baca.

Mulailah proses kirim-kiriman naskah. Macam-macam sambutannya. Ada yang tertarik di depan, membuat penulis antusias, lalu tidak ada follow up, kondisi yang banyak membuat penulis pemula putus asa dan melemparkan naskah ke tempat sampah. Ada juga yang tertarik, mengajak ketemuan, tapi belum-belum sudah memaksakan suntingan sana-sini atau malah topik baru untuk ditulis, kalimat “bakalan lebih laku, deh”, “kita lebih butuh tulisan model begini” adalah contoh tawaran yang diberikan. Ada juga yang sudah bolak-balik ngajak meeting, minta edit sana-sini, tau-tau proyek bukunya batal, karena person in charge-nya pindah kerja. Dari semua ‘hambatan’ itu saya tetap bersyukur dan menganggapnya sebagai pengalaman baru. Lagipula beruntung juga saya tidak pernah masuk fase dimana naskah yang saya kirim tidak mendapatkan tanggapan. Juga kondisi yang banyak membuat penulis pemula melupakan impian punya buku.

Apa tipsnya membuat penerbit selalu melihat naskah yang saya kirim? Pertama, ya jangan asal kirim naskah! Kalau penerbitnya terkenal dengan buku rohani semisal, janganlah kirim naskah novel fiksi. Kedua, coba cari  kenalan ‘orang dalam’ yang bisa memberikan by pass informationkepada tim seleksi naskah. Maklum penerbit besar itu punya tim seleksi yang sibuk menyortir tumpukan kiriman naskah menggunung, kadang tanpa bantuan, kemungkinan naskah (yang baik sekalipun) terlewat itu sangat besar. Ketiga, usahakan membuat naskah yang memiliki nilai jual, apapun jenisnya, namanya bisnis, orientasi utama penerbit pastilah mencetak buku yangprofitable.

Tapi obsesi menerbitkan buku itu harus terhindarkan dari konsep ‘asal terbit buku’, sehingga mencari penerbit yang juga asal. Hati-hati, banyak sekali penerbit nakal yang mencari mangsa penulis pemula, lalu dicetak kemudian dilupakan, promosi terbengkalai, distribusi buku seadanya, dan pasti royalti tak terbayar. Buat mereka, mencetak buku berlaku teori probabilitas dan kuantitas, cetak sebanyak mungkin judul, lempar ke pasar, lihat mana yang laku? Nah, urusin aja yang laku ini. Yang lain? Ya itu namanya colateral damage. Bahkan saya sering mendengar beberapa penerbit yang sekilas punya nama lumayan besar pun memiliki masalah sama.  Bagusnya sih, browsing dulu deh kalau naskahnya diminati oleh penerbit yang namanya masih asing di telinga.

To cut the long story shortThese are my books yang akhirnya dicetak dan bisa didapatkan di pasar.

 

Yoga Sehari-hari Untuk Kesehatan

Jujur ini buku terbaik dan paling niat yang saya buat. Dengan segala keluguan dan energi yang melimpah-limpah. Isinya tentang pemahaman cross subject yang saya miliki tentang yoga dan kaitannya dalam kesehatan. Cover depannya Ratih Citra Sari, sahabat saya yang sukses menyembuhkan dirinya dari serangan kanker ganas dan langka lewat latihan yoga teratur. Penerbitnya sendiri dikenalkan oleh pak Wied Harry.

Walau hasil output sangat baik, tapi sayangnya secara promosi dan taktikal saya masih tergolong lugu dalam memasarkan buku ini ke pasar. Hasilnya kurang memuaskan. Walau masuk rak ‘best seller’ di beberapa toko buku, tapi untuk ukuran buku yang diproduksi dengan biaya besar, penjualannya tergolong tidak terlalu menguntungkan pihak penerbit. Butuh waktu 2.5 tahun untuk cetakan pertama buku ini habis. Walau terserap tak bersisa oleh pasar, dan masih terus dicari, tapi penerbit berpikir dua kali untuk mencetak ulang, mungkin salah satunya karena biaya produksi yang juga tinggi.

Saya sih masih bersyukur, minimal buku ini ludes dibeli. Mayoritas buku yang dipajang di toko buku berakhir di paper shredder atau alat pemusnah dokumen lain, karena kembali lagi ke penerbit begitu saja, akibat seret penjualannya.

 

Mitos dan Fakta Kesehatan

Nah ini mungkin buku karya saya yang paling gak ada persiapan dibuat tapi sejauh ini malah yang paling laris. Awalnya dari twit-twit kesehatan yang saya sebarkan secara rutin di jejaring sosial, Twitter, yang follow saya disana juga saat itu belum banyak-banyak amat, baru sekitar 2000-3000an orang, sama istri saya @nina_tamam yang ratusan ribu saya masih kalah jauh, apalagi sama @agnezmo, akun Agnez Monica, yang waktu itu satu jutaan. Hanya saja berbedanya follower saya dengan para artis adalah sikap fanatisme dan mereka follow karena ingin belajar serta berinteraksi. Sebagai non selebritis, saya mencatat penambahan follower antara 1000-2000 perbulan, lumayan. Kok bisa? Umumnya berlaku sistem promosi word mouth atau getok tular, si anu cerita ke komunitasnya, sukses melakukan apa yang saya sarankan, si A me-retweet (fasilitas twitter) anaknya sembuh dari penyakit menahun setelah denger tipsnya si @erikarlebang, begitulah cara akun saya berekspansi.

Isi twit saya umumnya diberi hastag (pengelompokan) dengan embel-embel #kibulan. Kenapa kibul? Awalnya saya sering berbagi tips kesehatan, di Facebook atau Twitter atau dimana deh, tapi karena bukan ahli medis resmi, tips saya ini saya beri label kibulan supaya yang baca menerimanya secara ringan. Dicoba sukur, tidak dicoba pun saya tidak peduli, namanya cumasharing. Ada banyak #kibulan populer di dalam twit saya. Mulai dari #kibulansehat, #kibulancerna, #kibulanair sampai yang paling fenomenal #kibulansusu. Singkat kata setelah melalui popularitas dan kontroversi yang tinggi, banyak follower meminta twit ini dibukukan, saya cuma tertawa saja awalnya. “Siapa juga yang mau beli?” Dan berdasar pengalaman sulitnya mencari penerbit, komentar lanjutan saya adalah “Siapa yang mau nerbitin?”. Eh, tanpa disangka, Penerbit Kompas, menyambut twit saya itu. Lewat akun, kini sahabat saya, @tinoekreswanto (karyawati di sana) ia menyampaikan minat membukukan twit saya.

Problem baru muncul! Saya belum menyimpan twit-twit saya secara baik. Ada sih di http://erykar.posterous.com, tapi tidak banyak dan belum terorganisir baik. Eh, dasar sudah takdir, follower-follower saya ternyata banyak sekali yang menyimpannya dengan rapi, mereka beramai-ramai menyumbangkan link dimana twit saya bisa ditemukan. Mengharukan! Dari sana, proses mengalir lancar dan mudah. Tim penerbit responsif dengan keinginan saya, bertemu dengan disainer grafis muda berbakat yang mudah diarahkan (saya kan juga mantan disainer profesional), tim produksi yang terbiasa mencetak produk berkualitas. Singkat cerita lahirlah buku ini.

Belajar dari pengalaman buku sebelumnya. Saya ikut terjun langsung dalam memasarkan buku ini. Ilmu pemasaran dan promosi yang ada di kepala (sebagai mantan anak iklan, praktisi pemasaran dan media cetak) keluar semua, mudah saja kok, banyak ide aplikatif yang diadposi oleh penerbit dan membuat buku ini sukses besar di pasaran. Dalam dua minggu, 5000 buku terserap habis oleh pasar. Not bad untuk ukuran buku kesehatan.

And it still going strong up until today, hopefully in the future, amen!

 

Food Combining Itu Gampang

Buku ini mungkin yang pembuatannya paling mudah dari semua buku lain. Awalnya awak Mizan, mbak Dhyas ikut dalam seminar yang saya buat untuk http://YogaLeaf.com saat istirahat, menghampiri lalu berkata, “Mas, materinya dibuat buku dong! Seru nih, soalnya buku food combining yang ada umumnya masih susah dimengerti dan gak gampang dilakukan”. Saya sih cuma cengar-cengir saja. Apa susahnya memindahkan materi yang sudah ada ke bentuk lain? Paling cuma nambah ngecap-ngecap sedikit.

Prosesnya cepat? Gak juga! Saya adalah penulis model procrastinator paling ahli menunda. Berasa menulis artikel itu enteng, saya acap menunda-nunda penulisan. Walhasil saya harus menghadapi kenyataan ‘ditendang-tendang terus bokongnya’ oleh tim redaksi Mizan. Maklum mereka juga ketar-ketir, kan buku saya diprediksi untuk dicetak tanpa melalui proses sunting naskah normal. Bagaimana kalau naskah yang muncul gak sesuai harapan? Untung saja, proyek ini memang aslinya gak sulit-sulit amat, kan tinggal dimelarin dari materi presentasi saja. Lalu lahirlah buku ini.

Jualan buku ini lumayan gampang, karena positioningnya sudah jelas. Food combining gampang! Sejauh ini buku-buku pendahulunya tergolong rumit, jadi walaupun laku, biasanya berakhir di rak buku, jarang dibaca habis. Buku ini ringan namun informatif, rata-rata mengatakan “dua jam baca juga kelar buku ini”pembelian secara frekuentif sangat mungkin terjadi, karena orang yang membaca sekali ingin membagi pengetahuannya dengan orang lain, tapi mereka juga masih perlu sesekali membaca lagi, jadi mereka membeli buku baru untuk diberikan kesana-sini. Ini salah satu trik pemasaran yang lumayan jitu untuk bisa dijadikan acuan saat menulis naskah sebuah buku. Semoga umur buku ini di pasar juga berlangsung panjang, potensinya sih begitu, amiin!

 

Mitos dan Fakta Yoga Olahraga

Buku ini lahir tanpa banyak persiapan ataupun antusiasme dari saya. Kumpulan tulisan selama saya menjadi pemilik rubrik The Motivator, di majalah Prevention, waralaba majalah kesehatan di US yang dibeli hak edarnya oleh PT. Gramedia. 4 tahun saya menulis di rubrik itu, hadirlah buku ini.

That’s all

 

Foodcombining Di Bulan Ramadan

Buku pertama yang saya tulis berdasarkan konteks seasonal, jelang bulan Ramadan. Bukan, bukan maksud saya menulis buku untuk mengejar konsep asal laku semata. Tapi semangat untuk berbagi, ta’ela, menjalani puasa di bulan Ramadan dengan lebih baik serta berkualitas.

968773_597790223587420_2091414490_n

Gak susah-susah amat sih. Tapi masalahnya ya itu, penyakit saya sebagai penulis pemalas. Mulainya lama banget, sementara waktu jatuh tanggal batas produksi supaya bisa edar di bulan puasa kian mepet. Jadilah saya kejar-kejaran dengan deadline. Tapi jadi juga tuh (elap keringet), penerbit lega, karena menurut mereka, hasilnya sangat bagus, puji syukur.

Penjualannya lumayan sangat. Namanya juga produk seasonal. Pas Ramadan orang-orang membelinya cukup intens, apalagi didorong oleh testimoni banyak follower saya di Twitter yang terkagum-kagum dengan hasil berpuasa lewat tips foodcombining ini. “Gak sempet dipajang di Best Seller, mas.. Stocknya keburu abis”, ungkap salah satu karyawan toko Gramedia di pusat perbelanjaan terbesar Jakarta.

Untuk buku ini, saya sempat roadshow ke daerah. Solo dan Yogyakarta, sambutannya sangat baik. Bahkan di Jogja, atrium  Ambarukmo Plaza penuh oleh orang yang antusias mengikuti, baik yang memang khusus datang, maupun yang lewat lalu tertahan karena isi materi pembicaraannya

m

Thank God!

 

Buku Laris

Dulu sebelum punya buku sendiri, saya sering melewati rak-rak buku laris di toko buku besar. “Wuih, apa rasanya ya jalan di toko buku, terus melihat buku-buku kita dipajang dengan embel-embel buku laris!”. Gak terbayangkan! Tapi saya mencoba sekuat tenaga, memvisualkan hal tersebut dalam angan dan meyakinkan itu pasti terjadi.

Becareful what you wish for!

Again thank God! Ini adalah pemandangan yang ditangkap oleh teman saya, Bimo Prasetio di toko buku Gramedia, Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, salah satu toko buku terbesar dan landmarkseluruh toko buku di negara ini. Rada bengong dan speechless pas terima mention foto ini di Twitter:

@erikarlebang Ciye yg laris manis, besok gw bedah deh bukunya ;phttp://lockerz.com/s/287722741

Di pintu depan, seksi buku laris kesehatan, visualisasi saya itu benar terjadi! Lucunya lagi, dari 6 buku yang terpampang di foto tersebut, 3 adalah karya saya dan 1 buku memuat potongan kalimat endorser yang saya buat di covernya, buku dr. Hiromi Shinya “Rahasia Awet Muda”. Dahsyat juga ya?

Another, thank God!