Self Healing With Yoga

Gara-gara sok jadi ‘Superman’ yang gak mungkin sakit, aktivitas fisik agak sedikit digeber tanpa pandang bulu. Waktu latihan yoga pun agak berkurang, biasanya setiap hari 1.5-3 jam, sekarang jadi 2 hari sekali, itupun sekedarnya. Belum lagi faktor kehujanan dan kepanasan saat bergowes sepeda. Bukannya neduh atau pake jas hujan, cuek aja hajar bleh.

Walhasil, saat tubuh sedang lelah, virus atau bakteri menari-nari kesenangan. Untung tonsil saya gak dibuang, jadi alarm terdepan pertahanan tubuh ini langsung bereaksi. Salah satu kelenjar dari bagian sistem limfatik tubuh ini membengkak mengirimkan sinyal bagi tubuh untuk memanaskan diri bersiap menghadapi serangan pihak eksternal. Demam deh…

Ok, medan perang dimulai. Saya sadar dan bersiap diri. Walau anak dokter, yang dari kecil dibekali ilmu medis untuk menghadapi problem seperti ini sedini mungkin dengan obat-obatan farmasi konvensional, saya sudah bertahun-tahun memilih tidak minum obat dan memakai senjata lain untuk melawannya. Inilah salah satu senjata saya : yoga!

YOGA SAAT SAKIT, HARI PERTAMA
Beragam Restorative Yoga yang dilakukan :

JANUSIRSANA

Ini adalah salah satu pose paling ‘mendinginkan’ bagi tubuh. Secara alamiah untuk menangani serbuan virus atau bakteri, tubuh masuk ke mode siaga dengan mengaktifkan sistem saraf simpatetik.

Sayangnya sistem tersebut membuat bagian-bagian tubuh yang tidak perlu ‘siaga’ menjadi ikut-ikutan menegang dan membuat orang sakit menjadi tidak nyaman. Itulah sebabnya mengapa kita sering melihat orang yang sedang demam secara tidak sadar mengatupkan gigi kuat-kuat atau menegangkan seluruh ototnya, dalam keadaan tidur sekalipun.

Pose ini mampu memberikan rasa tenang dan merelakskan tubuh dengan amat sangat. Secara empiris terbukti pose ini mampu memindahkan sistem simpatetik tadi ke parasimpatetik yang lebih tenang dan nyaman. Itulah sebabnya mengapa dalam dunia yoga, pose front bending dikenal memiliki efek ‘mendinginkan’ tubuh. Tapi tanpa bantuan kursi saat berusaha ‘mencium lutut’, bisa jadi akan berubah ke hadirnya masalah baru, cedera punggung. Makanya dipakailah alat bantu!

Setelah melakukan ini selama 10-15 menit -berganti-ganti kaki- tubuh yang rasanya ‘kacau balau’ menjadi lebih relaks. Demam pun terasa menjadi lebih baik.

SETUBANDHA SARVANGASANA

Pose ini masuk dalam kategori back bending yang dapat memberikan energi ekstra bagi tubuh. Namun sesuai dengan pengalaman pribadi, melakukan back bending saat tubuh dalam keadaan demam, adalah sebuah langkah tolol luar biasa. Hampir gue pingsan gara-gara itu, untung jago berenang… (lho?).

Pemakaian guling mengakomodir masalah tersebut. Back bending menjadi lebih restoratif dengan memberikan efek menenangkan bagi tubuh namun pada saat bersamaan tetap membuat tubuh lebih fit.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sering energi yang dipergunakan untuk pencernaan diperbantukan ke sektor lain, walhasil banyak orang merasa perut mereka sering tidak nyaman saat demam tinggi menyerang. Permukaan curvatif dari guling, membuat organ-organ perut melebar secara horisontal, ini juga memberi efek meringankan bagi sistem pencernaan. Pijatan guling pada bagian punggung membuat kerja kelenjar adrenaline menjadi lebih stabil.

Setelah melakukan pose ini selama 5-8 menit, tubuh terasa jauh lebih menenangkan.

SAVASANA

Saat demam menyerang, tidur adalah langkah terbaik untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan meminimalisir pemakaian energi. Namun tidur dengan nafas yang terasa panas serta metabolisme kacau bukanlah pekerjaan mudah. Pemakaian guling sebagai support dan penutup mata memudahkan usaha relaksasi yang mendekati fase tidur.

3 aktivitas ini saya lakukan berulang-ulang saat penyakit sedang memasuki masa ‘terparahnya’. Tindakan ini sangat membantu ‘perjuangan’ pasukan daya tahan, karena sang tubuh menjadi ‘battle field’ yang sangat akomodatif. Bayangkan apabila pasukan daya tahan tubuh harus berjuang di medan perang yang tidak mendukung? Tubuh resah, dijejali bermacam masalah adalah contoh medan perang yang sulit bagi para warrior daya tahan tubuh Anda.

YOGA DI HARI KEDUA SAKIT
Setelah memasuki hari kedua, tubuh mulai menjadi lebih akomodatif. Rasa serba salah serta panas tubuh yang sedikit di atas normal, mulai menurun serta stabil. Thanks to yoga restorative, tubuh menjadi jauh lebih tenang tanpa harus minum obat penahan sakit atau pereda demam. Akibat usaha pendinginan tersebut, demam turun dengan sendirinya.

Sambil tetap melakukan pose hari pertama, beberapa pose yoga yang sedikit lebih ‘menantang’ mulai bisa dilakukan. Namun harus konstan dalam kerangka Restorative Yoga dan menempatkan alat bantu sebagai partner utama. Tanpa itu, jangan coba-coba melakukan asana yoga normal saat tubuh sedang menderita penyakit.

PRASARITA PADOTANASANA

Hampir bersifat separuh forward bending dan separuh inversion (terbalik). ‘Mendinginkan’ tubuh sekaligus memberi pasokan oksigen ekstra bagi otak seperti layaknya efek positif dari beragam pose terbalik.

Pemakaian guling memberikan rasa nyaman serta ketenangan pada otak. Paru-paru mendapatkan stimulasi yang dapat meningkatkan kerjanya karena ditempatkan terbalik. Awalnya mungkin agak ada rasa tercekat, tonsil yang membengkak pun seperti mendapatkan rasa sakit yang cukup ‘aneh’. Namun setelah beberapa detik, keadaan kembali normal dan perlahan justru terasa lebih baik.

Melakukan hal ini selama 3-5 menit memberikan efek luar biasa bagi tubuh.

SARVANGASANA

Ini pose paling terapikal dalam yoga untuk urusan memberikan rasa nyaman serta tenang. Itulah sebabnya pose ini dikenal sebagai ‘The Queen of all poses’, karena identik dengan rasa nyaman yang direpresentasikan dalam wujud kewanitaan.

Pose ini memberikan rasa hening yang instan. Menurut BKS Iyengar -pakar yoga kesehatan yang tradisinya saya geluti- disebabkan oleh berat dari otak bagian depan yang membebani otak bagian belakang sehingga mau tidak mau pikiran kita akan menjadi fokus ke satu titik. Saat pikiran tenang, metabolisme tubuh berjalan dengan lancar, termasuk semua penunjang sistem pencernaan.

Kelenjar thyroid di leher mendapatkan pasokan darah segar penuh oksigen dari jantung karena pose terbalik ini memberikan limpahan darah agak sedikit lain dari biasanya, akibat posisi yang melawan gravitasi. Kursi membuat effort kita berkurang lebih dari 50% untuk melakukan pose ini dengan benar.

Setelah melakukannya selama 10 menit, tubuh terasa lebih segar dan sirkulasi darah memberikan rasa tentram luar biasa. Tutup dengan savasana selama 10 menit.

YOGA DI HARI KETIGA SAKIT
Tubuh telah sembuh sekitar 80-90% dari kapasitas normalnya. Latihan asana yoga bisa dibilang telah menjadi normal. Beberapa pose bisa dilakukan tanpa alat bantu. Tergelitik untuk bereksperiman melakukan pose ekstrim untuk memberi vitalitas lebih. Anggap saja badan ini sebagai laboratorium uji coba!

SIRSASANA

Pose paling terapikal setelah Sarvangasana. Khusus untuk tonsil yang masih agak bengkak, pose terbalik ini memberi stimulasi ekstra, plus pasokan darah kaya oksigen dan substansi dasar yang dibutuhkan oleh organ tubuh.

Tapi kalau sakit, ada baiknya ngerjain pake alat bantu, seperti dua kursi ini, atau kalau punya hanging ropes (tambang besar a la Iyengar) untuk variasi sirsasana. Gak punya? Coba bergantung di bibir sumur aja deh? Hihi.. Alat bantu memudahkan tubuh yang masih lemah untuk melakukan pose ini dalam jangka waktu lebih lama.

Sempat terasa rasa aneh, khusus di bagian amandel, namu?n selang beberapa detik, rasa aneh itu hilang dan rasa langsung hilang. Bahkan setelah melakukan selama 10 menit, begitu turun, rasa sakit menelan mereda jauh. Oh ya! Saya juga pernah membantu anaknya sahabat saya yang radang tenggorokan dengan pose ini. Ajaib!

Tuhan maha besar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s