Self Healing (Tanpa Yoga)

TERKENA FLU

Dimulai dari serentetan kegiatan yang membuat siklus kehidupan terganggu. Plus efek liburan panjang yang berentet juga mempengaruhi siklus hidup harian. Mampirlah virus influenza ke tubuh saya ini. Untung Tuhan melindungi saya, dengan membuka pikiran ibu saya sebagai seorang dokter muda dan kakek saya sebagai seorang dokter produk konvensional, dengan tidak mengoperasi/mengangkat amandel saya waktu masih kecil dulu. Mekanisme garda depan pelindung kesehatan itu, kini benar-benar menjadi pelindung dan pemberi signal paling awal untuk saya mengetahui bahwa ada yang salah dalam tubuh ini.

Pulang malam seusai mengajar, mendadak kerongkongan saya menjadi tidak nyaman, cek di cermin -dengan teknik dasar kedokteran yang diajarkan ibu saya waktu kecil- langsung terlihat, spt biasa, amandel mulai memerah. “Hmm, bakal sakit nih gue!”. Biasanya mendapat signal spt ini, saya langsung merubah pola makan dan pola istirahat secara drastis untuk mencegah penyakit menjadi lebih parah. Kalaupun akhirnya menjadi sakit, biasanya saya langsung menambahkan yoga sebagai porsi penyembuhan, disamping minum banyak dan makan ‘bersih’. Terakhir saya terkena influenza pertengahan tahun lalu, butuh waktu 4 hari untuk sembuh. Lumayan lah, knowing saya tidak pernah sama sekali menyentuh obat-obatan dalam bentuk apapun, hingga 12 tahun terakhir ini. (Siklus cara ‘self healing’ saya terekam di notes ini :http://www.facebook.com/note.php?note_id=85541370973 dan ini :http://www.facebook.com/note.php?note_id=86155165973)

Tadinya saya mau melakukan hal ini seperti biasa. Namun kebetulan saya sedang membaca buku BKS Iyengar, “Astadala Yogamala”, ada kutipan menarik yang berbunyi kurang lebih seperti, “..sbg seorang yogi, belajarlah untuk menjadikan tubuh sendiri layaknya laboratorium, untuk percobaan, sehingga mampu memperkaya pengetahuan dan mungkin bisa dipergunakan untuk kebaikan orang lain..”. Akhirnya saya tergelitik untuk mencoba melakukan eksperimen ‘self healing’ tanpa melakukan yoga. Apa yang akan terjadi?

POLA MAKAN

Makan buah dan sayur banyak-banyak! Karena ada serentetan kesibukan di depan, istirahat juga ikut-ikutan saya ‘setip’ dari program eksperimen pola penyembuhan diri sendiri kali ini. Mau gak mau, pola makan jadi acuan saya untuk menyembuhkan diri sendiri kali ini. Habis mau gimana lagi? Masih mending daripada menyerahkan diri saya pada tangan (komersialisme) dunia farmasi atau menyeret tubuh saya ke tempat praktek dokter (yang ujung-ujungnya akan menghadiahi selembar resep), bukan?

Buah, sumber super kaya dari enzim alami, mineral, antioksidan, nutrisi, serat penuh manfaat dan tinggi kandungan air. Antioksidan dari buah dapat dipergunakan untuk menghancurkan beragam radikal bebas dan molekul yang berubah sifat menjadi jahat (mayoritas karena makanan prosesan) sehingga tubuh memiliki gangguan yang minim. Termasuk virus atau bakteri yang hadir dari faktor luar tubuh. Tinggal konsentrasi di cara bagaimana makan buah yang benar?

Sayuran, juga kaya dengan vitamin, mineral serta enzyme yang begitu mudah dan instan dipakai oleh tubuh. Sayuran sama seperti buah, menyerap beragam mineral yang ada di tanah mengubahnya sehingga menjadi berbentuk organis dan mudah diserap saat dimakan. Sayuran pun menyediakan enzim (zat kompleks, yang menjadi katalisator utama pencernaan dan berbagai aktivitas tubuh lainnya) siap pakai yang sangat berguna bagi tubuh.Sayangnya enzim mudah sekali mati, dimasak di atas suhu 130 derajad fahrenheit (sekitar 40-50 derajad celcius) enzim akan segera mati. Jadi makan sayuran mentah lah, yang belum sama sekali dimasak, kalau mau ada manfaatnya secara penuh!

Takut sama petsisida? Beli aja sayuran organik atau tanem sendiri di halaman rumah! Takut sama bakteri Patogen? Cuci lah bersih-bersih sayuran dan buah itu, kalau perlu rendem di cuka apel! Beres kan?

Saya adalah penggemar tulisan-tulisan Dr. F. Batmanghelidj -dokter keturunan Iran- yang banyak menilit tentang air dan menemukan bahwa dehidrasi adalah akar dari beragam penyakit primer di kehidupan modern ini. Orang (bahkan kalangan medis) mayoritas salah menyikapi dehidrasi dan membuang waktu serta biaya terlalu banyak menangani segala bentuk penyakit yang sebenarnya cuma perlu ketersediaan air yang cukup untuk menyelesaikannya. Tubuh terdiri dari triliunan sel yang bahan dasarnya adalah air. Dalam keadaan normal, darah terdiri dari 94% air dan 75% untuk setiap sel tubuh. Kombinasi ini menciptakan semacam reaksi kelistrikan yang membuat tubuh manusia memiliki energi untuk berfungsi dengan normal. Saat sakit biasanya metabolisme menjadi agak kacau balau, jadi keberadaan air yang agak diatas kebutuhan rata-rata, sangat diperlukan di sini!

Saran minum air 8 gelas sehari, sebenarnya baru memenuhi kebutuhan dasar bagi metabolisme manusia. Saat sakit, saya bisa minum belasan gelas air setiap hari! Frekuensi buang air tentu meningkat dan sepintas mengganggu. Mengatasinya? Gampang! Visualisasikan saja urine dipenuhi toksin atau residu sisa metabolisme yang memang harus ‘dibuang’, rasa terganggu itu akan segera hilang. Dr. Tan Shot Yen, malah dalam ‘omelan’nya selalu mengatakan “Minum air putih itu harus konstan supaya kencing kita gak berwarna!”

Singkat kata dua hal ini saya coba andalkan untuk melawan sakit saya kali ini, tanpa mempergunakan yoga sama sekali. We’ll see…

PENYEMBUHAN LEBIH LAMA

Ternyata oh ternyata.. (Rhoma Irama mode on), self healing tanpa yoga dan tanpa obat (tentunya) memakan waktu yang lebih lama! Plus jadwal saya yang agak ‘sok sibuk’, membuat waktu istirahat tidak berlangsung optimal. Akibatnya? Butuh waktu seminggu lebih untuk bisa sembuh dari flu! Dengan perincian, meriang sekaligus demam berlangsung 2 hari, hidung tersumbat sekitar 1-3 hari, batuk 4-5 hari, hidung berlendir 6-7 hari. Lengkap dengan gangguan-gangguan kecil yang umum dialami saat flu menyerang, total jendral butuh seminggu lebih beberapa hari baru badan saya terasa benar-benar bugar!

Tapi jangan dibayangkan bahwa semua ini saya jalani dengan berat! Nutrisi cukup, limpahan enzyme dan cairan yang saya konsumsi membuat semua ini berjalan ringan-ringan saja. Walau kepala pusing, hidung berlendir dan sedikit-sedikit batuk, energi saya untuk menjalani kegiatan harian tetap normal. Konsentrasi buah dan sayur yang saya konsumsi dalam jumlah banyak membuat kerja pencernaan menjadi ringan, sehingga banyak energi tubuh yang bisa dihemat dan sangat membantu proses penyembuhan atau setidaknya daya tahan tubuh. Minum air putih dalam jumlah banyak juga menjaga kestabilan suhu tubuh saya, sehingga walaupun demam sempat mampir, panas tubuh saya masih berada dalam level normal.

Satu hal yang pasti! Kalau terbiasa mengandalkan yoga untuk menjaga kesehatan, saat alpa melakukan, rasanya tubuh kita akan ‘berantakan’. What I did hereshows it all!

Summary terbaik dari pemikiran saya ini. Yoga memang baik dikedepankan sebagai salah satu jalan untuk mencari kesehatan. Dan memang terbukti ampuh! Masalahnya, kalau mau sehat secara hakiki, yoga tidak bekerja layaknya obat yang diminum terus sembuh, setelah itu ‘bengong’ dan menunggu penyakit datang lagi, minum obat lagi, terus begitu berangsur-angsur sampai akhirnya penyakit datang lagi dalam wujud yang luar biasa parah dan tak tertangani. Penyembuhan lewat yoga tergolong mirip dengan perawatan kesehatan. Berlatih postur yoga (asana) harus dilakukan secara rutin! Kalau tidak, tubuh yang telah terbiasa mendapatkan stimulasi atau ‘rangsangan’ positif akan kehilangan, dan mulai kehilangan fungsi kesehatannya satu persatu.

Saya mendapatkan pengalaman berharga dari ‘eksperimen’ ini. Beberapa rekan saya juga demikian. Mereka yang telah sembuh secara ‘luar biasa’ dari kondisi kesehatan yang mereka alami, mayoritas merasakan bahwa begitu mereka alpa berlatih, penyakit itu segera muncul kembali. Saya sering mendengar orang yang berusaha ‘menyembuhkan’ penyakitnya lewat yoga mengajukan pertanyaan, “Jadi begitu saya sembuh, saya mesti harus yoga terus-terusan?” atau “Berapa lama dan sampai kapan saya harus melakukan ini semua?”. Acuan menarik datang dari ungkapan BKS Iyengar, seputar pertanyaan “Berapa kali kita harus berlatih yoga dalam satu minggu?” jawaban beliau singkat penuh analogi, namun mendalam “Can you survive your day without brushing your teeth or  taking a bath?”. Bisakah kita melewati hari kita tanpa mandi atau sikat gigi? Beberapa mungkin bilang “Bisa!”, tapi apakah mereka memiliki kualitas hidup yang baik setelah melakukan itu?

If you want to get yourself healthy by doing yoga, first it has to be an integral part of your life!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s