Fungsi Yoga Dalam Perawatan Sistem Tubuh Manusia

“Kok bisa nebak segini canggih sih? Lo dukun atau paranormal?”

Sebuah kalimat tanya lahir, waktu saya sedang berlatih yoga dengan salah seorang saudara dekat. Ingin terbahak rasanya. Kebetulan kami baru pertama kali berlatih bersama, dan dia bolak-balik memperlihatkan kenaifannya dalam mempergunakan tubuh untuk beryoga. Well, setidaknya beryoga dengan tradisi yang biasa saya lakukan, Iyengar. Kenaifan tersebut membuat ia melahirkan komentar-komentar panjang lebar, mayoritas berupa keluhan. Kadang karena karena ototnya yang teregang luar biasa, keringat yang membanjir, nafas yang memburu, jantung yang berdetak lebih cepat dan lain sebagainya.

Entah karena rasa kedekatan kekerabatan atau karena usaha kerasnya, saya berlaku cukup sabar di sini -sabar, untuk ukuran saya tentunya- dengan secara attentive mengakomodasi semua keluhannya dengan memberikan bantuan alat bantu ataupun adjustment dengan mempergunakan kaki serta tangan saya.

Alasan dia yang utama berlatih yoga bersama dengan saya, adalah berentet keluhan yang dia miliki terhadap tubuhnya. “Capek gue, sakit ini-itu, pengen gue betulin ah, badan gue ini”. Waktu kami mulai berlatih pertama kali, saya sudah tertawa sendiri waktu dia memulai pose relaksasi awal sebagai pembuka sesi latihan bersama, suptha badda konasana, belum-belum memulai ia sudah merebahkan dirinya di atas guling dengan mendongakkan kepalanya menjauh dari dada. Saya bertanya sambil melipat selimut untuk dijadikan bantal mengembalikan posisi kepalanya ke tempat yang lebih baik, “Kalau tidur, susah gak?” Ia terperangah, “Banget! Kok tau?” Saya cuma tersenyum kecil.

“Pernah asma? Atau mungkin masih?” Tanya saya lagi, sewaktu saya membenarkan posisi bahunya yang menjorok jauh ke depan saat kami sedang berlatih beberapa pose forward bend. “Asma sih nggak, tapi setiap pagi gue selalu kesulitan bernafas, dan kalau lagi capek, pasti gue susah napas, kok lo tau sih?” Jawabnya lagi sambil tidak lupa mengutarakan ketakjubannya.

“Sakit lambung lo parah, gak?” Tanya saya saat membantu menempatkan tubuhnya di pose Dandasana (staff pose) dengan menempelkan kaki ke tembok. “Ah, gila.. Iya, banget!”. Saya terbahak saat ia tidak tahan lagi untuk mencap saya dukun atau paranormal setelah beberapa tebakan saya tentang kondisinya, hit the bulls eye.

It has nothing to do with that, at all!

 

BUKU KOMIK

Saya juga tidak bermaksud pamer atau apa dengan bertanya kondisinya. Disamping menegaskan, saya juga ingin belajar dari apa yang saya lihat. Tubuh manusia sebenarnya menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupannya, terutama kehidupan kesehatan. Namun karena manusia adalah mahluk spesial, apa yang terjadi di satu manusia belum tentu menggambarkan hal yang sama di manusia lain. Untuk itulah saya harus bertanya, kalau-kalau saya bertemu dengan kasus yang spesial, tentunya saya bisa belajar dari manusia pembawa kasus spesial ini lebih jauh lagi, bukan?

Buat mereka, gunanya apa? Ya setidaknya kita bisa mencari jalan keluar dari problematika apapun yang mereka hadapi itu? Bisa dengan mencari sequence pose yoga terbaik yang harus sering dilakukan (belakangan ini hanya saya lakukan, apabila saya tahu, orang yang saya bantu adalah pelaku yoga yang rutin) atau setidaknya ia bisa tergerak menghentikan kebiasaan buruk yang menjadi penyebab.

Untuk kerabat saya ini, tubuhnya benar-benar seperti ‘buku komik’ penuh gambar, kata-kata dan warna, yang luar biasa mudah dibaca. Makanya tebakan saya hampir semuanya tepat. Saat tidur di pose suptha badda konasana, ia tidur dengan menjauhkan dagunya dari dada, itu indikasi bahwa kelenjar thyroid yang ada di lehernya berada dalam posisi terstretch terus menerus, dalam pengalaman empiris saya, kondisi ini membuat kelenjar penting metabolisme tubuh ini berada dalam keadaan ‘kering’, fungsi yang terganggu dari kelenjar ini menghasilkan satu gejala klasik, susah tidur!

Gangguan pernafasan bisa saya tebak dari cara dia menempatkan bahunya yang berputar jauh dari sumbu semestinya. Mengakibatkan ruang rongga dadanya menyempit, dan paru-parunya hanya bekerja sepertiga dari kapasitas normalnya. Gaya bernafasnya pun mudah ditebak, mengaktifkan otot dada dan bahu.

Penyakit lambungnya bisa diperkirakan dari cara dia menempatkan bagian dadanya yang ‘mendekat’ ke arah bagian perut. Sehingga isi rongga dada dengan paru-paru yang tergolong ‘raksasa’ membebani posis organ pencernaan terdekat. Orang seperti ini biasanya memiliki kerja organ lambung yang abnormal.

Dan yang lebih lucu lagi, saya tinggal ‘memvonisnya’ dengan satu pertanyaan final, “Sakit punggung pasti dong?”. Matanya terbelalak lebar, “Ah, gila lo! Gue kan mau yoga sama elu, gara-gara punggung gue itu ‘killing’ gue banget!!!”. Haha, gampang sekali diagnosanya. Tubuh membungkuk pasti identik dengan stress di areal lumbar yang menghasilkan tekanan pada ruas 4-5-nya thus menghasilkan kebocoran gel yang akan segera menekan saraf sciatica. Cukup untuk memberikan efek sakit punggung mengganggu acap luar biasa menyakitkan.

So, is it that hard to see?

 

SISTEM TUBUH MANUSIA

Seorang sahabat yang berprofesi sebagai dokter memuji pengetahuan saya tentang tubuh manusia. Sebuah pujian yang lebih pantas untuk membuat malu ketimbang dibanggakan, walaupun saya sangat bersyukur, karena apa yang saya tahu dibanding dengan dirinya, lebih bersifat #101, sangat mendasar! Saya ingat buku anatomi yang saya pergunakan untuk belajar detil tentang fungsi fisiologis pun ditertawakan oleh ibu saya, karena buku itu walau sangat informatif, sebenarnya materi untuk anak SD belajar tentang tubuh manusia di US sana. “Kenapa gak minta mama aja, buku beginian sih banyak banget yang lebih bagus” ledek beliau yang juga seorang dokter.

Itu sebabnya pengetahuan saya sebenarnya lebih ada di level malu-maluin ketimbang membanggakan.

Tapi berbeda dengan ahli medis konvensional yang lebih tertarik menempatkan terapi farmasi atau penanganan kuratif-invasif eksternal sebagai jalan keluar, keterbatasan pengetahuan membuat saya lebih mengeksplorasi kemampuan tubuh manusia untuk mengobati diri sendiri semaksimal mungkin. Dan eksplorasi saya itu menjadi terfasilitasi berkat tradisi yoga yang saya dalami. BKS Iyengar yang namanya dipergunakan sebagai tradisi ini, juga awalnya tidak menyadari hal tersebut, ia baru menemukan fenomena ini saat tubuhnya yang di masa muda ringkih oleh gerogotan TBC, sembuh secara alami lewat yoga yang dilakukannya.

Penelitian yang dilakukan secara naluriah menuntun tradisi yang dikembangkannya perlahan-lahan menjadi perkawianan integral antara yoga dan dunia medis modern, hingga hari ini.

Berbeda dengan bahasa rumit atau pola pikir medis konvensional yang terkait erat dengan farmakologi, pemikiran tradisi Iyengar lebih terkait dengan kemampuan tubuh menyembuhkan diri sendiri yang jauh lebih sederhana serta mudah dimengerti. Pemahaman tentang sistem tubuh manusia dan stimulasi yang bisa diberikan oleh setiap pose yoga adalah syarat mutlak mengapa konsep penyembuhan bisa terjadi di sana. Penyembuhan yang berlangsung secara alamiah. Walau bukan itu tujuan utama dari yoga, tapi it’s nice to know that doing something is going to give you a bonus in other side.

Singkat kata, this is one of the secrets why I seem to be having some kind of a sophisticated knowledge on human body. Penguasaan tentang sistem yang ada di dalamnya!

 

SISTEM SIRKULASI DARAH

Sirkulasi darah adalah salah satu elemen utama dalam tubuh. Darah mengangkut oksigen dan beragam substansi penting yang diperlukan ke seluruh penjuru. Secara normal seluruh penjuru tubuh manusia akan tersentuh oleh darah. Sistem sirkulasi ini memiliki semacam alat generator bernama jantung, ia bertugas memompa darah keluar dan masuk.

Keluar membawa oksigen segar, masuk untuk kemudian dioper kembali ke paru-paru dan diisi oleh oksigen. Seluruh bentuk peredaran darah ini sangat menentukan kualitas hidup seorang manusia. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa jantung yang sehat menjadi indikator mutlak tingkat kesehatan seseorang.

Asana (olah postur) yoga dapat membantu kesehatan sistem sirkulasi darah tersebut lewat berbagai macam cara.

Pose back bend semacam ini membuat jantung berada dalam kondisi teregang secara longitudinal, secara alamiah ia akan berada dalam situasi stimulatif yang bersifat sangat positif. Seperti mendapatkan rangsangan layaknya otot yang dipijat untuk mendapatkan aliran darah lebih banyak. Ahli bedah jantung dalam keadaan darurat, sering melakukan hal yang sama dengan memijat langsung untuk memancing reaksi dari jantung. Dalam yoga kita melakukannya secara alamiah dan dekat dengan keseharian.

Secara empiris menurut BKS Iyengar, tindakan ini juga mampu menghilangkan sumbatan saluran koroner. Bagi penderita darah rendah, kondisi ini bisa jadi agak menyulitkan, mempergunakan alat bantu seperti ini, membuat back bend bisa menjadi fase yang nyaman untuk mereka.

Selain itu, sistem sirkulasi darah juga bisa distimulasi dengan mempergunakan rangsangan melalui upaya pembolak-balikkan posisi tubuh. Mempermainkan efek gravitasi, membuat darah memiliki efek dorong yang lebih aktif guna mencapai atau meninggalkan organ tubuh. Jantung teringankan kerjanya karena ia tidak perlu terlalu keras memompa darah agar ‘kembali’ , beberapa bagian organ tubuh yang jauh dari posisi gravitasi seperti otak, tiroid, mata dan organ mulut misalnya akan mendapatkan darah segar penuh oksigen lebih banyak dari biasanya.

Kesehatan saluran darah yang juga menentukan sistem sirkulasi pun bisa terbantu dengan stimulasi semacam ini, untuk menambah daya ‘dorong’ dari darah dalam menjebol sumbatan akibat tumpukan lemak yang berlebihan, misalnya.

 

SISTEM RESPIRATORI

Kadang hidup manusia dilihat dari kondisinya yang masih bernafas atau tidak. Respiratory atau pernafasan memang diidentikkan dengan daya hidup manusia. Tugas organ pernafasan adalah menghirup oksigen dalam jumlah yang cukup, dan menghembuskan karbon dioksida sebagai ‘ampas’ metabolisme dari tubuh manusia.

Generator dari sistem ini supaya bisa bekerja dengan sempurna adalah sebuah organ besar bernama paru-paru, ia bertugas memasukkan oksigen ke dalam darah yang diterimanya dari jantung. Lalu oksigen tersebut diberikan ke seluruh penjuru organ tubuh yang memerlukannya.

Walau terletak di bagian rongga dada yang memiliki otot besar (pectoral) serta terkoneksi dengan otot bahu yang sangat dominan, kerja paru-paru sejatinya ditentukan oleh sebuah otot internal yang melintang dan berbentuk kubah di antara rongga dada dan perut, otot tersebut bernama diafragma. Ia akan bergerak turun ke bawah saat kita menarik nafas memberi ruang kepada paru-paru untuk mengembang secara maksimal agar mampu menyerap oksigen sebanyak mungkin, ia lalu akan bergerak ke atas untuk mendorong paru-paru mengecil agar karbon dioksida dapat dibuang sebanyak-banyaknya.

Secara alamiah, manusia di usia dini mempergunakan otot ini secara maksimal. Perhatikan betapa bayi atau anak kecil akan bernafas dengan menaik turunkan perutnya secara teratur. Sebuah kebiasaan yang sering ditinggalkan saat manusia beranjak dewasa. Jadi jangan heran, semakin dewasa kita, semakin sering problematika pernafasan datang menyerang.

Asana Yoga dapat menstimulasi kondisi paru-paru sedemikian rupa hingga kesehatannya selalu terjaga dengan baik. Setubandha Sarvangasana ini misalnya, perhatikan betapa dada berada dalam kondisi terbalik, sehingga paru-paru yang menyempit akibat kesalahan postural misalnya, mau tidak mau akan mengembang mengikuti lengkungan yang dilakukan. Selain membuat areal dada dipenuhi oleh darah, kondisi demikian memaksa paru-paru untuk aktif akibat rangsangan yang diterimanya.

Daya tarik gravitasi juga membuat otot diafragma yang tidak terpakai secara maksimal dan mungkin mengeras, menjadi lebih aktif serta lebih elastis. Sekaligus melepaskan kontraksi berlebihan pada organ perut, itulah sebabnya banyak pelaku yoga yang memiliki problema pencernaan, pasca melakukan pose ini, merasakan kepalanya pusing. Kita harus segera meng-alter efek dari pose ini dengan memberikan pose restorative lain yang berlawanan fungsi.

Di sisi lain tidak semua orang yang mengalami problematika pernafasan bisa mendapatkan treatment seperti demikian. Mereka yang memiliki fenomena dada cekung (tulang dada/sternum-nya agak menjorok ke dalam) secara alamiah pasti akan mengalami kesulitan untuk bernafas apabila pose di atas diaplikasikan secara mendadak.

Segera adaptasikan dengan pose savasana bersanggakan guling seperti di atas ini, untuk membuat paru-parunya terangkat dan berfungsi lebih baik, otot diafragma pun otomatis bisa bekerja dengan lebih sempurna.

 

SISTEM LIMFATIK

Ini adalah sistem pertahanan tubuh kita dalam membuang racun internal kelenjar dan menjaga tubuh kita dari serbuan ‘alien’ yang mungkin merugikan kesehatan. Kerjanya ditentukan oleh beragam saluran serta kelenjar yang tersebar di seluruh tubuh, terutama di bagian lipatan-lipatan sendi. Sayangnya walaupun vital, sistem ini tidak memiliki generator layaknya sistem pernafasan atau darah. Kerjanya murni distimulasi oleh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh. Maka apabila kita ingin fungsi sistem ini berjalan dengan sempurna mau tidak mau kita harus selalu ‘bergerak dengan dosis yang tepat’.

Itulah sebabnya orang yang sakit dan divonis harus beristirahat total lalu menerjemahkannya dengan tidak pernah pergi dari tempat tidur, biasanya justru sembuh lebih lama ketimbang mereka-mereka yang beristirahat secara wajar. Atau mereka yang malas bergerak, lebih mudah terserang penyakit ketimbang rekannya yang lebih aktif.

Namun bukan berarti kita harus secara over dosis menjadi aktif. Karena apabila hal tersebut dilakukan, bukannya menguat, sistem limfatik kita bisa jadi malah seperti kehabisan energi dan melemah sehingga mudah dikalahkan oleh hal-hal negatif yang muncul dari luar maupun dalam tubuh.

Utkatasana adalah salah satu contoh pose yoga yang sangat mengaktifkan sistem limfatik tubuh kita. Lihat betapa seluruh persedian utama tubuh manusia teraktifkan di pose ini. Karena seperti telah diutarakan di atas, kelenjar limfatik umumnya banyak bercokol di areal tersebut, otomatis kondisi demikian membuat sistem pertahanan ibarat ‘digertak’ dan menjadi lebih aktif dan reaktif terhadap segala macam gangguan.

Bagi mereka yang memiliki keterbatasan kekuatan karena perkembangan usia ataupun jam terbang yoga yang masih minim, pemakaian alat bantu seperti di samping ini dapat memaksimalkan hasil yang ingin didapat tanpa harus kehilangan detil alignment dari masing-masing pose.

‘Menggertak’ sistem limfatik ini lewat asana yoga, juga sebenarnya tidak terlalu sulit. Hampir seluruh tradisi yoga yang memaksimalkan pemakaian asana sebagai salah satu kegiatan rutin, bisa dimanfaatkan dan menjadi pilihan. Contohnya seperti sekuel Surya Namaskar yang dilakukan secara rutin sesuai kemampuan.

 

SISTEM SARAF

Segala macam aktivitas yang terjadi pada tubuh, terkait erat dengan sistem saraf tubuh kita. Sistem ini sangat kompleks, terdiri dari 3 elemen penting : Otak, susunan saraf tulang belakang (spinal cord) dan saraf itu sendiri. Koordinasi antar sistem terjadi akibat kerjasama triliunan sel terkait bernama neuron, yang saling berhubungan lewat semacam sensasi kejut listrik dan berlangsung secepat kilat lewat jaringan yang berbentuk mirip dengan sambungan kabel.

Sistem saraf tubuh kita ada yang berbentuk kumpulan saraf mengatur fungsi organ dalam tengkorak (cranial), tersentralisasi di tulang punggung (central), kemudian tersebar lewat saraf tepi ke tangan dan kaki (peripheral) atau yang bersifat autonomikal, mengatur kerja organ-organ vital tubuh (autonomic).

Mirip dengan kerja sistem limfatik, sistem saraf membutuhkan ‘pergerakan’ sebagai ‘penggertak’ agar ia bisa bekerja secara maksimal setiap saat. Dan karena ia ‘bertengger’ pada tulang punggung yang memiliki tugas lain sebagai penyangga tubuh, fitalitas sistem saraf sangat bergantung pada kesehatan organ tempatnya ‘menumpang’ hidup ini.

Oleh karena itu perawatan struktur tulang punggung lewat stimulasi yang diberikan oleh asana yoga dengan gerakan memelintir, melengkungkan atau membungkukkan punggung dapat juga memberikan efek sangat positif bagi sistem saraf ini. Meminjam istilah yang dipergunakan oleh salah satu tradisi yoga, tulang punggung itu ibarat ‘batang baterai’ yang bisa ‘direcharge’ dengan mempergunakan asana yoga.

Seperti contoh di samping ini, Bharadvajasana, pose klasik -sangat mirip dengan salah satu gerakan ritual keagamaan salah satu agama terbesar di dunia- mampu menjadi contoh betapa gamblang stimulasi sistem saraf pusat itu bisa dilakukan dengan melakukan asana yoga. Tidak heran apabila banyak pelaku yoga yang setelah melakukan pose ini (dengan catatan : apabila dilakukan dengan benar), kemudian merasa tubuhnya lebih segar atau kehilangan rasa kantuk.

Kecuali bagi penderita migraine atau scoliosis yang tidak bisa sembarangan melakukan pose ini tanpa adjustment atau asana lain untuk ‘memperhalus’ efek yang akan mereka terima dari pose ‘memelintir’ ini. This, needs ‘jam terbang’ atau pemahaman lebih jauh tentang ‘penetrasi’ sebuah pose yoga terhadap tubuh manusia.

 

MENGUASAI HAL FUNDAMENTAL

Sebenarnya terkait masalah kesehatan, menguasai tubuh manusia secara anatomis fisiologis bagi seorang pecinta yoga tidaklah terlampau sulit. Karena pendekatannya bukan seperti seorang ahli medis yang memang diharapkan memberikan kesembuhan. Meminjam istilah sahabat pecinta yoga yang kebetulan seorang dokter

“yoga bukan pengobatan, karena untuk bisa masuk di klasifikasi tersebut dibutuhkan dosis yang tepat, serta mampu diaplikasikan secara general ke banyak orang”

Yoga tidak memiliki ‘dosis’ yang general, ia membutuhkan pendekatan customized yang berbeda-beda di setiap orang. Rumit? Tidak, sama sekali tidak! Asal kita mau memulai dengan membangun pemahaman tentang tubuh manusia secara fundamental, melakukan pendekatan customized seperti itu tidaklah terlalu sulit. Menguasai perawatan sistem tubuh seperti detil yang telah terurai di atas adalah salah satu kuncinya. Terkadang kerapian sistem ciptaan Tuhan ini begitu mencengangkan, karena keterkaitannya satu sama lain. Satu elemen saja terganggu, biasanya akan menimbulkan efek domino kerusakan pada sistem lain.

Lucunya, kadang dengan yoga, satu elemen yang rusak tadi, menjadi baik dan rangkaian penyembuhannya yang ditimbulkan bisa bersifat seperti efek domino juga. Jadi apa yang saya lakukan di awal cerita ini, sebenarnya lebih ke pemahaman saya terhadap hal yang bersifat fundamental. Bukan hal yang rumit atau tidak bisa diukur dengan pasti.

It’s just a human body system, that you need to understand, nothing else!

4 thoughts on “Fungsi Yoga Dalam Perawatan Sistem Tubuh Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s